PT. Pelabuhan Indonesia II | Indonesia Port Corporation - Latest News & Events http://www.indonesiaport.co.id/ The latest news and events from PT. Pelabuhan Indonesia II | Indonesia Port Corporation Feeds. Get top news stories and in-depth coverage with videos and photos. en-US Copyright (c) 2011 INDONESIA PORT II! Inc. All rights reserved 2017-23-11T03:10:00+07:00 5 PT. Pelabuhan Indonesia II | Indonesia Port Corporation - Latest News & News http://103.19.80.229/newpriok/feeds/ http://103.19.80.229/newpriok/images/logo.png Tokoh Independen Awasi Megaproyek Terminal Kalibaru <p><a title='Sejumlah tokoh independen dilibatkan dalam proses pengawasan megaproyek Terminal Kalibaru, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, senilai Rp24 triliun yang dibangun oleh PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC.&nbsp;Mereka tergabung dalam Oversight Committee (Komite Pengawas) yang dibentuk pada 1 Februari 2013.Para tokoh independen tersebut adalah mantan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, pengamat ekonomi Faisal Basri, analis finansial senior Lin Che Wei, Sekjen Transparansi Internasional Indonesia (TII) Natalia Soebagjo, serta pengacara senior di bidang finansial, perbankan dan pasar modal Ahmad Fikri Assegaf.Dalam struktur Komite Pengawas, posisi ketua dijabat oleh Erry Riyana Hardjapamekas. Faisal Basri selanjutnya ditunjuk menjadi juru bicara, dan Lin Che Wei sebagai sekretaris komite. Sementara Natalia Soebagjo dan Ahmad Fikri Assegaf menjadi anggota komite.Staf Khusus Wakil Presiden, Mohamad Ikhsan, menuturkan ide awal pembentukan Komite Pengawas untuk pembangunan Terminal Kalibaru ini muncul dari perbincangan ringan dengan Direktur Utama IPC RJ Lino.&nbsp;Ikhsan mengatakan dalam perbincangan itu ia menceritakan pengalaman PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) menjual saham Bank Permata dengan nilai premium. Menurutnya, keberhasilan PPA salah satunya karena adanya Komite Pengawas yang mengawasi proses seleksi calon investor.&ldquo;Ini penjualan aset pemerintah paling bagus menurut saya. Karena prosesnya semua benar,&rdquo; kata dia.Ikhsan mengatakan, Komite Pengawas dalam kasus penjualan Bank Permata bisa membantu memastikan bahwa semua proses yang dilakukan sesuai peraturan. Selain itu, tokoh-tokoh independen yang menjadi anggota Komite Pengawas membantu meningkatkan kredibilitas pengawasan dan juga mencegah adanya intervensi dari berbagai pihak.Dari perbincangan itu, lanjut Ikhsan, kemudian muncul ide pembentukan Komite Pengawas untuk pembangunan Terminal Kalibaru. Ide ini kemudian didiskusikan lagi dengan beberapa tokoh dan mendapat sambutan baik. Tokoh-tokoh yang diajak berdiskusi kemudian juga memberikan masukan mengenai bentuk organisasi Komite Pengawas yang disesuaikan dengan kondisi IPC sebagai BUMN.Dari diskusi kemudian juga muncul nama-nama calon anggota komite. Akhirnya setelah nama-nama tokoh yang cocok terpilih, manajemen IPC menerbitkan surat keputusan pembentukan Komite Pengawas tertanggal 1 Februari 2013.Direktur Utama IPC RJ Lino mengatakan, kehadiran Komite Pengawas untuk memantau pembangunan Terminal Kalibaru sangat diperlukan. Pasalnya, selain membutuhkan dana sangat besar, proyek ini akan menjadi proyek pelabuhan terbesar di Indonesia dengan tingkat produtivitas setara pelabuhan terbaik lainnya di dunia. &ldquo;Jadi, kami memerlukan keterlibatan tokoh-tokoh independen dan kredibel untuk memastikan prosesnya tidak menyimpang dan sesuai dengan good corporate governance,&rdquo; katanya.Pembangunan tahap pertama Terminal Kalibaru sudah dimulai sejak terbitnya Izin Lingkungan pada bulan Desember 2012 dan ditargetkan mulai beroperasi 2014. Sementara terminal tahap kedua direncanakan akan beroperasi pada 2021.Selain pembangunan terminal, Komite Pengawas akan memantau pelaksanaan seleksi mitra kerjasama pengoperasiaan terminal Kalibaru. Pengawasan juga dilakukan terhadap negosiasi perpanjangan konsesi PT Jakarta International Container Terminal (JICT) untuk pemeliharaan dan pengoperasian peti kemas di terminal Tanjung Priok.PT JICT adalah perusahaan kerjasama antara IPC dan Hutchison Ports Indonesia. PT JICT memegang konsesi pengelolaan terminal Tanjung Priok selama 20 tahun sejak 1999. Konsesi yang berakhir 2019 rencananya akan diperpanjang kembali.Erry Riyana yang diminta menjadi Ketua Komite mendukung pembentukan Komite Pengawas tersebut. Ini diperlukan untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas pembangunan proyek.&nbsp;&ldquo;Ini merupakan langkah nyata pemerintah dan IPC untuk memastikan semua proses bebas dari suap dan korupsi, serta semua proses sesuai aturan yang ada,&rdquo; ujarnya.Menurutnya, proyek ini dibangun atas dasar inovasi dan pendekatan proaktif. Karena itu saya dan teman-teman lain yang kini tergabung di oversight committee terpanggil untuk mengawal proyek ini supaya tak ada intervensi dari mana pun demi terbangunnya sarana penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dirinya, berharap semangat proaktif untuk melakukan inovasi juga bisa muncul dari sektor lain yang terkait dengan sistem logistik nusantara.&nbsp;Erry mencontohkan perlu adanya pembagunan jalan-jalan penghubung menuju dan dari Tanjung Priok. Selain itu juga perlu adanya reformasi birokrasi pelabuhan, termasuk penertiban aparat penegak hukum dan penjaga keamanan.Komite Pengawas akan bertugas selama 24 bulan. Dalam melaksanakan tugasnya, komite pengawas bisa meminta keterangan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan terminal Kalibaru pemilihan mitra kerjasama dan perpanjangan konsesi PT JICT. Komite pengawas juga diberikan wewenang melakukan studi kebijakan yang diambil manajemen IPC untuk memastikan tidak ada peraturan yang dilanggar dan sesuai prinsip good corporate governance. (Andreas Timoty/Adf)Sumber : metrotvnews.com' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/tokoh-independen-awasi-megaproyek-terminal-kalibaru-32.html'> <img src='../content_images/Our-Next-Banner-02.jpg' width='100' align='left' title='Tokoh Independen Awasi Megaproyek Terminal Kalibaru - Sejumlah tokoh independen dilibatkan dalam proses pengawasan megaproyek Terminal Kalibaru, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, senilai Rp24 triliun yang dibangun oleh PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC.&nbsp;Mereka tergabung dalam Oversight Committee (Komite Pengawas) yang dibentuk pada 1 Februari 2013.Para tokoh independen tersebut adalah mantan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, pengamat ekonomi Faisal Basri, analis finansial senior Lin Che Wei, Sekjen Transparansi Internasional Indonesia (TII) Natalia Soebagjo, serta pengacara senior di bidang finansial, perbankan dan pasar modal Ahmad Fikri Assegaf.Dalam struktur Komite Pengawas, posisi ketua dijabat oleh Erry Riyana Hardjapamekas. Faisal Basri selanjutnya ditunjuk menjadi juru bicara, dan Lin Che Wei sebagai sekretaris komite. Sementara Natalia Soebagjo dan Ahmad Fikri Assegaf menjadi anggota komite.Staf Khusus Wakil Presiden, Mohamad Ikhsan, menuturkan ide awal pembentukan Komite Pengawas untuk pembangunan Terminal Kalibaru ini muncul dari perbincangan ringan dengan Direktur Utama IPC RJ Lino.&nbsp;Ikhsan mengatakan dalam perbincangan itu ia menceritakan pengalaman PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) menjual saham Bank Permata dengan nilai premium. Menurutnya, keberhasilan PPA salah satunya karena adanya Komite Pengawas yang mengawasi proses seleksi calon investor.&ldquo;Ini penjualan aset pemerintah paling bagus menurut saya. Karena prosesnya semua benar,&rdquo; kata dia.Ikhsan mengatakan, Komite Pengawas dalam kasus penjualan Bank Permata bisa membantu memastikan bahwa semua proses yang dilakukan sesuai peraturan. Selain itu, tokoh-tokoh independen yang menjadi anggota Komite Pengawas membantu meningkatkan kredibilitas pengawasan dan juga mencegah adanya intervensi dari berbagai pihak.Dari perbincangan itu, lanjut Ikhsan, kemudian muncul ide pembentukan Komite Pengawas untuk pembangunan Terminal Kalibaru. Ide ini kemudian didiskusikan lagi dengan beberapa tokoh dan mendapat sambutan baik. Tokoh-tokoh yang diajak berdiskusi kemudian juga memberikan masukan mengenai bentuk organisasi Komite Pengawas yang disesuaikan dengan kondisi IPC sebagai BUMN.Dari diskusi kemudian juga muncul nama-nama calon anggota komite. Akhirnya setelah nama-nama tokoh yang cocok terpilih, manajemen IPC menerbitkan surat keputusan pembentukan Komite Pengawas tertanggal 1 Februari 2013.Direktur Utama IPC RJ Lino mengatakan, kehadiran Komite Pengawas untuk memantau pembangunan Terminal Kalibaru sangat diperlukan. Pasalnya, selain membutuhkan dana sangat besar, proyek ini akan menjadi proyek pelabuhan terbesar di Indonesia dengan tingkat produtivitas setara pelabuhan terbaik lainnya di dunia. &ldquo;Jadi, kami memerlukan keterlibatan tokoh-tokoh independen dan kredibel untuk memastikan prosesnya tidak menyimpang dan sesuai dengan good corporate governance,&rdquo; katanya.Pembangunan tahap pertama Terminal Kalibaru sudah dimulai sejak terbitnya Izin Lingkungan pada bulan Desember 2012 dan ditargetkan mulai beroperasi 2014. Sementara terminal tahap kedua direncanakan akan beroperasi pada 2021.Selain pembangunan terminal, Komite Pengawas akan memantau pelaksanaan seleksi mitra kerjasama pengoperasiaan terminal Kalibaru. Pengawasan juga dilakukan terhadap negosiasi perpanjangan konsesi PT Jakarta International Container Terminal (JICT) untuk pemeliharaan dan pengoperasian peti kemas di terminal Tanjung Priok.PT JICT adalah perusahaan kerjasama antara IPC dan Hutchison Ports Indonesia. PT JICT memegang konsesi pengelolaan terminal Tanjung Priok selama 20 tahun sejak 1999. Konsesi yang berakhir 2019 rencananya akan diperpanjang kembali.Erry Riyana yang diminta menjadi Ketua Komite mendukung pembentukan Komite Pengawas tersebut. Ini diperlukan untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas pembangunan proyek.&nbsp;&ldquo;Ini merupakan langkah nyata pemerintah dan IPC untuk memastikan semua proses bebas dari suap dan korupsi, serta semua proses sesuai aturan yang ada,&rdquo; ujarnya.Menurutnya, proyek ini dibangun atas dasar inovasi dan pendekatan proaktif. Karena itu saya dan teman-teman lain yang kini tergabung di oversight committee terpanggil untuk mengawal proyek ini supaya tak ada intervensi dari mana pun demi terbangunnya sarana penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dirinya, berharap semangat proaktif untuk melakukan inovasi juga bisa muncul dari sektor lain yang terkait dengan sistem logistik nusantara.&nbsp;Erry mencontohkan perlu adanya pembagunan jalan-jalan penghubung menuju dan dari Tanjung Priok. Selain itu juga perlu adanya reformasi birokrasi pelabuhan, termasuk penertiban aparat penegak hukum dan penjaga keamanan.Komite Pengawas akan bertugas selama 24 bulan. Dalam melaksanakan tugasnya, komite pengawas bisa meminta keterangan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan terminal Kalibaru pemilihan mitra kerjasama dan perpanjangan konsesi PT JICT. Komite pengawas juga diberikan wewenang melakukan studi kebijakan yang diambil manajemen IPC untuk memastikan tidak ada peraturan yang dilanggar dan sesuai prinsip good corporate governance. (Andreas Timoty/Adf)Sumber : metrotvnews.com' border='0' /></a> <p><img src="http://image.metrotvnews.com/bank_images/actual/136230.jpg" alt="" width="480" height="300" /><br /><br />Sejumlah tokoh independen dilibatkan dalam proses pengawasan megaproyek Terminal Kalibaru, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, senilai Rp24 triliun yang dibangun oleh PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC.&nbsp;<br /><br />Mereka tergabung dalam Oversight Committee (Komite Pengawas) yang dibentuk pada 1 Februari 2013.<br /><br />Para tokoh independen tersebut adalah mantan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, pengamat ekonomi Faisal Basri, analis finansial senior Lin Che Wei, Sekjen Transparansi Internasional Indonesia (TII) Natalia Soebagjo, serta pengacara senior di bidang finansial, perbankan dan pasar modal Ahmad Fikri Assegaf.<br /><br />Dalam struktur Komite Pengawas, posisi ketua dijabat oleh Erry Riyana Hardjapamekas. Faisal Basri selanjutnya ditunjuk menjadi juru bicara, dan Lin Che Wei sebagai sekretaris komite. Sementara Natalia Soebagjo dan Ahmad Fikri Assegaf menjadi anggota komite.<br /><br />Staf Khusus Wakil Presiden, Mohamad Ikhsan, menuturkan ide awal pembentukan Komite Pengawas untuk pembangunan Terminal Kalibaru ini muncul dari perbincangan ringan dengan Direktur Utama IPC RJ Lino.&nbsp;<br /><br />Ikhsan mengatakan dalam perbincangan itu ia menceritakan pengalaman PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) menjual saham Bank Permata dengan nilai premium. Menurutnya, keberhasilan PPA salah satunya karena adanya Komite Pengawas yang mengawasi proses seleksi calon investor.<br /><br />&ldquo;Ini penjualan aset pemerintah paling bagus menurut saya. Karena prosesnya semua benar,&rdquo; kata dia.<br /><br />Ikhsan mengatakan, Komite Pengawas dalam kasus penjualan Bank Permata bisa membantu memastikan bahwa semua proses yang dilakukan sesuai peraturan. Selain itu, tokoh-tokoh independen yang menjadi anggota Komite Pengawas membantu meningkatkan kredibilitas pengawasan dan juga mencegah adanya intervensi dari berbagai pihak.<br /><br />Dari perbincangan itu, lanjut Ikhsan, kemudian muncul ide pembentukan Komite Pengawas untuk pembangunan Terminal Kalibaru. Ide ini kemudian didiskusikan lagi dengan beberapa tokoh dan mendapat sambutan baik. Tokoh-tokoh yang diajak berdiskusi kemudian juga memberikan masukan mengenai bentuk organisasi Komite Pengawas yang disesuaikan dengan kondisi IPC sebagai BUMN.<br /><br />Dari diskusi kemudian juga muncul nama-nama calon anggota komite. Akhirnya setelah nama-nama tokoh yang cocok terpilih, manajemen IPC menerbitkan surat keputusan pembentukan Komite Pengawas tertanggal 1 Februari 2013.<br /><br />Direktur Utama IPC RJ Lino mengatakan, kehadiran Komite Pengawas untuk memantau pembangunan Terminal Kalibaru sangat diperlukan. Pasalnya, selain membutuhkan dana sangat besar, proyek ini akan menjadi proyek pelabuhan terbesar di Indonesia dengan tingkat produtivitas setara pelabuhan terbaik lainnya di dunia. &ldquo;Jadi, kami memerlukan keterlibatan tokoh-tokoh independen dan kredibel untuk memastikan prosesnya tidak menyimpang dan sesuai dengan good corporate governance,&rdquo; katanya.<br /><br />Pembangunan tahap pertama Terminal Kalibaru sudah dimulai sejak terbitnya Izin Lingkungan pada bulan Desember 2012 dan ditargetkan mulai beroperasi 2014. Sementara terminal tahap kedua direncanakan akan beroperasi pada 2021.<br /><br />Selain pembangunan terminal, Komite Pengawas akan memantau pelaksanaan seleksi mitra kerjasama pengoperasiaan terminal Kalibaru. Pengawasan juga dilakukan terhadap negosiasi perpanjangan konsesi PT Jakarta International Container Terminal (JICT) untuk pemeliharaan dan pengoperasian peti kemas di terminal Tanjung Priok.<br /><br />PT JICT adalah perusahaan kerjasama antara IPC dan Hutchison Ports Indonesia. PT JICT memegang konsesi pengelolaan terminal Tanjung Priok selama 20 tahun sejak 1999. Konsesi yang berakhir 2019 rencananya akan diperpanjang kembali.<br /><br />Erry Riyana yang diminta menjadi Ketua Komite mendukung pembentukan Komite Pengawas tersebut. Ini diperlukan untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas pembangunan proyek.&nbsp;<br /><br />&ldquo;Ini merupakan langkah nyata pemerintah dan IPC untuk memastikan semua proses bebas dari suap dan korupsi, serta semua proses sesuai aturan yang ada,&rdquo; ujarnya.<br /><br />Menurutnya, proyek ini dibangun atas dasar inovasi dan pendekatan proaktif. Karena itu saya dan teman-teman lain yang kini tergabung di oversight committee terpanggil untuk mengawal proyek ini supaya tak ada intervensi dari mana pun demi terbangunnya sarana penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dirinya, berharap semangat proaktif untuk melakukan inovasi juga bisa muncul dari sektor lain yang terkait dengan sistem logistik nusantara.&nbsp;<br /><br />Erry mencontohkan perlu adanya pembagunan jalan-jalan penghubung menuju dan dari Tanjung Priok. Selain itu juga perlu adanya reformasi birokrasi pelabuhan, termasuk penertiban aparat penegak hukum dan penjaga keamanan.<br /><br />Komite Pengawas akan bertugas selama 24 bulan. Dalam melaksanakan tugasnya, komite pengawas bisa meminta keterangan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan terminal Kalibaru pemilihan mitra kerjasama dan perpanjangan konsesi PT JICT. Komite pengawas juga diberikan wewenang melakukan studi kebijakan yang diambil manajemen IPC untuk memastikan tidak ada peraturan yang dilanggar dan sesuai prinsip good corporate governance. (Andreas Timoty/Adf)<br /><br />Sumber : <a href="http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/03/06/2/136230/Tokoh-Independen-Awasi-Megaproyek-Terminal-Kalibaru" target="_blank">metrotvnews.com</a></p> <p><a title='Sejumlah tokoh independen dilibatkan dalam proses pengawasan megaproyek Terminal Kalibaru, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, senilai Rp24 triliun yang dibangun oleh PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC.&nbsp;Mereka tergabung dalam Oversight Committee (Komite Pengawas) yang dibentuk pada 1 Februari 2013.Para tokoh independen tersebut adalah mantan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, pengamat ekonomi Faisal Basri, analis finansial senior Lin Che Wei, Sekjen Transparansi Internasional Indonesia (TII) Natalia Soebagjo, serta pengacara senior di bidang finansial, perbankan dan pasar modal Ahmad Fikri Assegaf.Dalam struktur Komite Pengawas, posisi ketua dijabat oleh Erry Riyana Hardjapamekas. Faisal Basri selanjutnya ditunjuk menjadi juru bicara, dan Lin Che Wei sebagai sekretaris komite. Sementara Natalia Soebagjo dan Ahmad Fikri Assegaf menjadi anggota komite.Staf Khusus Wakil Presiden, Mohamad Ikhsan, menuturkan ide awal pembentukan Komite Pengawas untuk pembangunan Terminal Kalibaru ini muncul dari perbincangan ringan dengan Direktur Utama IPC RJ Lino.&nbsp;Ikhsan mengatakan dalam perbincangan itu ia menceritakan pengalaman PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) menjual saham Bank Permata dengan nilai premium. Menurutnya, keberhasilan PPA salah satunya karena adanya Komite Pengawas yang mengawasi proses seleksi calon investor.&ldquo;Ini penjualan aset pemerintah paling bagus menurut saya. Karena prosesnya semua benar,&rdquo; kata dia.Ikhsan mengatakan, Komite Pengawas dalam kasus penjualan Bank Permata bisa membantu memastikan bahwa semua proses yang dilakukan sesuai peraturan. Selain itu, tokoh-tokoh independen yang menjadi anggota Komite Pengawas membantu meningkatkan kredibilitas pengawasan dan juga mencegah adanya intervensi dari berbagai pihak.Dari perbincangan itu, lanjut Ikhsan, kemudian muncul ide pembentukan Komite Pengawas untuk pembangunan Terminal Kalibaru. Ide ini kemudian didiskusikan lagi dengan beberapa tokoh dan mendapat sambutan baik. Tokoh-tokoh yang diajak berdiskusi kemudian juga memberikan masukan mengenai bentuk organisasi Komite Pengawas yang disesuaikan dengan kondisi IPC sebagai BUMN.Dari diskusi kemudian juga muncul nama-nama calon anggota komite. Akhirnya setelah nama-nama tokoh yang cocok terpilih, manajemen IPC menerbitkan surat keputusan pembentukan Komite Pengawas tertanggal 1 Februari 2013.Direktur Utama IPC RJ Lino mengatakan, kehadiran Komite Pengawas untuk memantau pembangunan Terminal Kalibaru sangat diperlukan. Pasalnya, selain membutuhkan dana sangat besar, proyek ini akan menjadi proyek pelabuhan terbesar di Indonesia dengan tingkat produtivitas setara pelabuhan terbaik lainnya di dunia. &ldquo;Jadi, kami memerlukan keterlibatan tokoh-tokoh independen dan kredibel untuk memastikan prosesnya tidak menyimpang dan sesuai dengan good corporate governance,&rdquo; katanya.Pembangunan tahap pertama Terminal Kalibaru sudah dimulai sejak terbitnya Izin Lingkungan pada bulan Desember 2012 dan ditargetkan mulai beroperasi 2014. Sementara terminal tahap kedua direncanakan akan beroperasi pada 2021.Selain pembangunan terminal, Komite Pengawas akan memantau pelaksanaan seleksi mitra kerjasama pengoperasiaan terminal Kalibaru. Pengawasan juga dilakukan terhadap negosiasi perpanjangan konsesi PT Jakarta International Container Terminal (JICT) untuk pemeliharaan dan pengoperasian peti kemas di terminal Tanjung Priok.PT JICT adalah perusahaan kerjasama antara IPC dan Hutchison Ports Indonesia. PT JICT memegang konsesi pengelolaan terminal Tanjung Priok selama 20 tahun sejak 1999. Konsesi yang berakhir 2019 rencananya akan diperpanjang kembali.Erry Riyana yang diminta menjadi Ketua Komite mendukung pembentukan Komite Pengawas tersebut. Ini diperlukan untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas pembangunan proyek.&nbsp;&ldquo;Ini merupakan langkah nyata pemerintah dan IPC untuk memastikan semua proses bebas dari suap dan korupsi, serta semua proses sesuai aturan yang ada,&rdquo; ujarnya.Menurutnya, proyek ini dibangun atas dasar inovasi dan pendekatan proaktif. Karena itu saya dan teman-teman lain yang kini tergabung di oversight committee terpanggil untuk mengawal proyek ini supaya tak ada intervensi dari mana pun demi terbangunnya sarana penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dirinya, berharap semangat proaktif untuk melakukan inovasi juga bisa muncul dari sektor lain yang terkait dengan sistem logistik nusantara.&nbsp;Erry mencontohkan perlu adanya pembagunan jalan-jalan penghubung menuju dan dari Tanjung Priok. Selain itu juga perlu adanya reformasi birokrasi pelabuhan, termasuk penertiban aparat penegak hukum dan penjaga keamanan.Komite Pengawas akan bertugas selama 24 bulan. Dalam melaksanakan tugasnya, komite pengawas bisa meminta keterangan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan terminal Kalibaru pemilihan mitra kerjasama dan perpanjangan konsesi PT JICT. Komite pengawas juga diberikan wewenang melakukan studi kebijakan yang diambil manajemen IPC untuk memastikan tidak ada peraturan yang dilanggar dan sesuai prinsip good corporate governance. (Andreas Timoty/Adf)Sumber : metrotvnews.com' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/tokoh-independen-awasi-megaproyek-terminal-kalibaru-32.html'>Read More</a> </p> <br clear='all'/> http://103.19.80.229/newpriok/news/tokoh-independen-awasi-megaproyek-terminal-kalibaru-32.html --07TMarch::00+07:00 AP http://103.19.80.229/newpriok/news/tokoh-independen-awasi-megaproyek-terminal-kalibaru-32.html PT. Pelabuhan Indonesia II | Indonesia Port Corporation HTML Pelindo II (IPC) Gandeng Mitsui Operasikan Terminal Kontainer <p><a title='Metrotvnews.com, Jakarta:&nbsp;PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II menetapkan Mitsui &amp; Co Ltd Jepang sebagai preferred bidder untuk mengoperasikan terminal kontainer satu di terminal Kalibaru, Tanjung Priok, Jakarta. "Mitsui adalah mitra kerja pertama yang terpilih untuk Terminal New Priok untuk pembangunan, pendanaan, dan pengoperasian," ujar Richard Joost Lino, Direktur Utama Pelindo II dalam siaran pers, Rabu (27/2). Menurut Lino, kesepakatan antara Pelindo II dengan Mitsui akan mendorong beroperasinya kapal di terminal kontainer satu di Kalibaru pada September 2014.&nbsp;"Terminal Kalibaru akan melipatgandakan kapasitas penanganan kontainer (container handling) di Pelabuhan Tanjung Priok," ungkapnya.Ia menjelaskan Terminal Kalibaru akan menjadi terminal pertama di Indonesia yang mampu melayani kapal kontainer terbesar yang ada saat ini.&nbsp;Selanjutnya, Terminal Kalibaru juga memungkinkan untuk melayani tanker berukuran AFRAMAX untuk bertambat di Pelabuhan Tanjung Priok.&nbsp;"Dalam proses seleksi mitra operator, Rothschild, Norton Rose dan David Wignall Associates telah bertugas sebagai advisor IPC, sementara Herbert Smith Freehills, Ernst &amp; Young dan Portek menjadi advisor Mitsui," katanya.Pelindo II, kata Lino, juga akan memilih partner untuk dua terminal kontainer dan terminal petroleum/bahan bakar. Investasi yang dialokasikan untuk pembangunan Terminal Petikemas Kalibaru sekitar US$2,5 miliar atau sekitar Rp24 triliun. (Wibowo/Adf)' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/pelindo-ii-(ipc)-gandeng-mitsui-operasikan-terminal-kontainer-31.html'> <img src='../content_images/Our-Next-Banner-02.jpg' width='100' align='left' title='Pelindo II (IPC) Gandeng Mitsui Operasikan Terminal Kontainer - Metrotvnews.com, Jakarta:&nbsp;PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II menetapkan Mitsui &amp; Co Ltd Jepang sebagai preferred bidder untuk mengoperasikan terminal kontainer satu di terminal Kalibaru, Tanjung Priok, Jakarta. "Mitsui adalah mitra kerja pertama yang terpilih untuk Terminal New Priok untuk pembangunan, pendanaan, dan pengoperasian," ujar Richard Joost Lino, Direktur Utama Pelindo II dalam siaran pers, Rabu (27/2). Menurut Lino, kesepakatan antara Pelindo II dengan Mitsui akan mendorong beroperasinya kapal di terminal kontainer satu di Kalibaru pada September 2014.&nbsp;"Terminal Kalibaru akan melipatgandakan kapasitas penanganan kontainer (container handling) di Pelabuhan Tanjung Priok," ungkapnya.Ia menjelaskan Terminal Kalibaru akan menjadi terminal pertama di Indonesia yang mampu melayani kapal kontainer terbesar yang ada saat ini.&nbsp;Selanjutnya, Terminal Kalibaru juga memungkinkan untuk melayani tanker berukuran AFRAMAX untuk bertambat di Pelabuhan Tanjung Priok.&nbsp;"Dalam proses seleksi mitra operator, Rothschild, Norton Rose dan David Wignall Associates telah bertugas sebagai advisor IPC, sementara Herbert Smith Freehills, Ernst &amp; Young dan Portek menjadi advisor Mitsui," katanya.Pelindo II, kata Lino, juga akan memilih partner untuk dua terminal kontainer dan terminal petroleum/bahan bakar. Investasi yang dialokasikan untuk pembangunan Terminal Petikemas Kalibaru sekitar US$2,5 miliar atau sekitar Rp24 triliun. (Wibowo/Adf)' border='0' /></a> <p><strong><img src="http://image.metrotvnews.com/bank_images/actual/134399.jpg" alt="" width="630" height="380" /><br /><br /><br /><br />Metrotvnews.com, Jakarta:</strong>&nbsp;PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II menetapkan Mitsui &amp; Co Ltd Jepang sebagai preferred bidder untuk mengoperasikan terminal kontainer satu di terminal Kalibaru, Tanjung Priok, Jakarta.</p> <p>"Mitsui adalah mitra kerja pertama yang terpilih untuk Terminal New Priok untuk pembangunan, pendanaan, dan pengoperasian," ujar Richard Joost Lino, Direktur Utama Pelindo II dalam siaran pers, Rabu (27/2).</p> <p><br />Menurut Lino, kesepakatan antara Pelindo II dengan Mitsui akan mendorong beroperasinya kapal di terminal kontainer satu di Kalibaru pada September 2014.&nbsp;<br /><br />"Terminal Kalibaru akan melipatgandakan kapasitas penanganan kontainer (container handling) di Pelabuhan Tanjung Priok," ungkapnya.<br /><br />Ia menjelaskan Terminal Kalibaru akan menjadi terminal pertama di Indonesia yang mampu melayani kapal kontainer terbesar yang ada saat ini.&nbsp;<br /><br />Selanjutnya, Terminal Kalibaru juga memungkinkan untuk melayani tanker berukuran AFRAMAX untuk bertambat di Pelabuhan Tanjung Priok.&nbsp;<br /><br />"Dalam proses seleksi mitra operator, Rothschild, Norton Rose dan David Wignall Associates telah bertugas sebagai advisor IPC, sementara Herbert Smith Freehills, Ernst &amp; Young dan Portek menjadi advisor Mitsui," katanya.<br /><br />Pelindo II, kata Lino, juga akan memilih partner untuk dua terminal kontainer dan terminal petroleum/bahan bakar. Investasi yang dialokasikan untuk pembangunan Terminal Petikemas Kalibaru sekitar US$2,5 miliar atau sekitar Rp24 triliun. (Wibowo/Adf)</p> <p><a title='Metrotvnews.com, Jakarta:&nbsp;PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II menetapkan Mitsui &amp; Co Ltd Jepang sebagai preferred bidder untuk mengoperasikan terminal kontainer satu di terminal Kalibaru, Tanjung Priok, Jakarta. "Mitsui adalah mitra kerja pertama yang terpilih untuk Terminal New Priok untuk pembangunan, pendanaan, dan pengoperasian," ujar Richard Joost Lino, Direktur Utama Pelindo II dalam siaran pers, Rabu (27/2). Menurut Lino, kesepakatan antara Pelindo II dengan Mitsui akan mendorong beroperasinya kapal di terminal kontainer satu di Kalibaru pada September 2014.&nbsp;"Terminal Kalibaru akan melipatgandakan kapasitas penanganan kontainer (container handling) di Pelabuhan Tanjung Priok," ungkapnya.Ia menjelaskan Terminal Kalibaru akan menjadi terminal pertama di Indonesia yang mampu melayani kapal kontainer terbesar yang ada saat ini.&nbsp;Selanjutnya, Terminal Kalibaru juga memungkinkan untuk melayani tanker berukuran AFRAMAX untuk bertambat di Pelabuhan Tanjung Priok.&nbsp;"Dalam proses seleksi mitra operator, Rothschild, Norton Rose dan David Wignall Associates telah bertugas sebagai advisor IPC, sementara Herbert Smith Freehills, Ernst &amp; Young dan Portek menjadi advisor Mitsui," katanya.Pelindo II, kata Lino, juga akan memilih partner untuk dua terminal kontainer dan terminal petroleum/bahan bakar. Investasi yang dialokasikan untuk pembangunan Terminal Petikemas Kalibaru sekitar US$2,5 miliar atau sekitar Rp24 triliun. (Wibowo/Adf)' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/pelindo-ii-(ipc)-gandeng-mitsui-operasikan-terminal-kontainer-31.html'>Read More</a> </p> <br clear='all'/> http://103.19.80.229/newpriok/news/pelindo-ii-(ipc)-gandeng-mitsui-operasikan-terminal-kontainer-31.html --05TMarch::00+07:00 AP http://103.19.80.229/newpriok/news/pelindo-ii-(ipc)-gandeng-mitsui-operasikan-terminal-kontainer-31.html PT. Pelabuhan Indonesia II | Indonesia Port Corporation HTML NewPriok telah mendapatkan izin Amdal dari Kementrian Lingkungan Hidup <p><a title='Jakarta, 3 Januari 2013 &nbsp;&ndash; PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau yang sekarang dikenal dengan Indonesia Port Corporation (IPC) secara resmi telah menerima ijin Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)&nbsp; dari Kementerian Lingkungan Hidup. &nbsp; Dengan dikeluarkannya SK Menteri Lingkungan Hidup nomor 293 tahun 2012 tentang izin lingkungan pembangunan dan pengoperasian terminal Kalibaru maka IPC&nbsp; akan segera melaksanakan Groundbreaking sebagai tanda dimulainya pembangunan terminal Kalibaru. Rencana induk pembangunan New Priok tahap 1, terdiri dari tiga container terminal serta dua terminal bahan bakar minyak dan gas. Pelabuhan ini didesain dengan kedalaman draft hingga -20 mLWS&nbsp;dengan tahap pertama akan dilakukan pengerukan sedalam -16 mLWS, dan alur pelayaran dua arah&nbsp;selebar hampir 300 meter untuk mempercepat arus kedatangan dan keberangkatan kapal. Pada tahap1 ini, pelabuhan akan dibangun di atas lahan seluas 195 hektar dengan panjang dermaga 4.000 meter&nbsp;dan mampu menampung kontainer hingga 4,5 juta TEUs. &nbsp; Seperti disebutkan sebelumnya, terminal pertama pembangunan tahap 1 ditargetkan mulai beroperasi&nbsp;pada tahun 2014. Keseluruhan pembangunan New Priok Port akan selesai pada tahun 2023 dan&nbsp;memiliki total kapasitas hingga 13 juta TEUs. Dapat dipastikan bahwa keberadaan New Priok Port akan&nbsp;mampu mendorong penguatan dan efisiensi mata rantai logistik nasional sehingga menarik investor&nbsp;untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Dan perlu dicatat, ini adalah pembangunan pelabuhan&nbsp;terbesar di Indonesia. &nbsp; New Priok Port akan memfasilitasi kapal-kapal besar seukuran EEE Class untuk bisa masuk langsung ke Indonesia tanpa perlu transshipment (Memindahkan muatan ke kapal lain, yang lebih besar/kecil) di negara&nbsp;lain. Dengan demikian, IPC dapat membantu para pelaku usaha dalam menekan biaya transportasi dan&nbsp;logistik, yang pada akhirnya akan menggerakkan perdagangan serta perekonomian di Indonesia.' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/newpriok-telah-mendapatkan-izin-amdal-dari-kementrian-lingkungan-hidup-30.html'> <img src='../content_images/banner-newpriok.jpg' width='100' align='left' title='NewPriok telah mendapatkan izin Amdal dari Kementrian Lingkungan Hidup - Jakarta, 3 Januari 2013 &nbsp;&ndash; PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau yang sekarang dikenal dengan Indonesia Port Corporation (IPC) secara resmi telah menerima ijin Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)&nbsp; dari Kementerian Lingkungan Hidup. &nbsp; Dengan dikeluarkannya SK Menteri Lingkungan Hidup nomor 293 tahun 2012 tentang izin lingkungan pembangunan dan pengoperasian terminal Kalibaru maka IPC&nbsp; akan segera melaksanakan Groundbreaking sebagai tanda dimulainya pembangunan terminal Kalibaru. Rencana induk pembangunan New Priok tahap 1, terdiri dari tiga container terminal serta dua terminal bahan bakar minyak dan gas. Pelabuhan ini didesain dengan kedalaman draft hingga -20 mLWS&nbsp;dengan tahap pertama akan dilakukan pengerukan sedalam -16 mLWS, dan alur pelayaran dua arah&nbsp;selebar hampir 300 meter untuk mempercepat arus kedatangan dan keberangkatan kapal. Pada tahap1 ini, pelabuhan akan dibangun di atas lahan seluas 195 hektar dengan panjang dermaga 4.000 meter&nbsp;dan mampu menampung kontainer hingga 4,5 juta TEUs. &nbsp; Seperti disebutkan sebelumnya, terminal pertama pembangunan tahap 1 ditargetkan mulai beroperasi&nbsp;pada tahun 2014. Keseluruhan pembangunan New Priok Port akan selesai pada tahun 2023 dan&nbsp;memiliki total kapasitas hingga 13 juta TEUs. Dapat dipastikan bahwa keberadaan New Priok Port akan&nbsp;mampu mendorong penguatan dan efisiensi mata rantai logistik nasional sehingga menarik investor&nbsp;untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Dan perlu dicatat, ini adalah pembangunan pelabuhan&nbsp;terbesar di Indonesia. &nbsp; New Priok Port akan memfasilitasi kapal-kapal besar seukuran EEE Class untuk bisa masuk langsung ke Indonesia tanpa perlu transshipment (Memindahkan muatan ke kapal lain, yang lebih besar/kecil) di negara&nbsp;lain. Dengan demikian, IPC dapat membantu para pelaku usaha dalam menekan biaya transportasi dan&nbsp;logistik, yang pada akhirnya akan menggerakkan perdagangan serta perekonomian di Indonesia.' border='0' /></a> <p><strong><br /><img src="https://fbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/p206x206/399267_446474435402357_2105959767_n.jpg" alt="" width="523" height="205" /><br /><br /><br /><br /></strong><strong>Jakarta, 3 Januari 2013</strong> &nbsp;&ndash; PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau yang sekarang dikenal dengan Indonesia Port Corporation (IPC) secara resmi telah menerima ijin Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)&nbsp; dari Kementerian Lingkungan Hidup.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Dengan dikeluarkannya SK Menteri Lingkungan Hidup nomor 293 tahun 2012 tentang izin lingkungan pembangunan dan pengoperasian terminal Kalibaru maka IPC&nbsp; akan segera melaksanakan Groundbreaking sebagai tanda dimulainya pembangunan terminal Kalibaru.<br /> <br /></p> <p>Rencana induk pembangunan New Priok tahap 1, terdiri dari tiga container terminal serta dua terminal bahan bakar minyak dan gas. Pelabuhan ini didesain dengan kedalaman draft hingga -20 mLWS&nbsp;dengan tahap pertama akan dilakukan pengerukan sedalam -16 mLWS, dan alur pelayaran dua arah&nbsp;selebar hampir 300 meter untuk mempercepat arus kedatangan dan keberangkatan kapal. Pada tahap1 ini, pelabuhan akan dibangun di atas lahan seluas 195 hektar dengan panjang dermaga 4.000 meter&nbsp;dan mampu menampung kontainer hingga 4,5 juta TEUs.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Seperti disebutkan sebelumnya, terminal pertama pembangunan tahap 1 ditargetkan mulai beroperasi&nbsp;pada tahun 2014. Keseluruhan pembangunan New Priok Port akan selesai pada tahun 2023 dan&nbsp;memiliki total kapasitas hingga 13 juta TEUs. Dapat dipastikan bahwa keberadaan New Priok Port akan&nbsp;mampu mendorong penguatan dan efisiensi mata rantai logistik nasional sehingga menarik investor&nbsp;untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Dan perlu dicatat, ini adalah pembangunan pelabuhan&nbsp;terbesar di Indonesia.</p> <p>&nbsp;</p> <p>New Priok Port akan memfasilitasi kapal-kapal besar seukuran EEE Class untuk bisa masuk langsung ke Indonesia tanpa perlu transshipment (Memindahkan muatan ke kapal lain, yang lebih besar/kecil) di negara&nbsp;lain. Dengan demikian, IPC dapat membantu para pelaku usaha dalam menekan biaya transportasi dan&nbsp;logistik, yang pada akhirnya akan menggerakkan perdagangan serta perekonomian di Indonesia.</p> <p><a title='Jakarta, 3 Januari 2013 &nbsp;&ndash; PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau yang sekarang dikenal dengan Indonesia Port Corporation (IPC) secara resmi telah menerima ijin Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)&nbsp; dari Kementerian Lingkungan Hidup. &nbsp; Dengan dikeluarkannya SK Menteri Lingkungan Hidup nomor 293 tahun 2012 tentang izin lingkungan pembangunan dan pengoperasian terminal Kalibaru maka IPC&nbsp; akan segera melaksanakan Groundbreaking sebagai tanda dimulainya pembangunan terminal Kalibaru. Rencana induk pembangunan New Priok tahap 1, terdiri dari tiga container terminal serta dua terminal bahan bakar minyak dan gas. Pelabuhan ini didesain dengan kedalaman draft hingga -20 mLWS&nbsp;dengan tahap pertama akan dilakukan pengerukan sedalam -16 mLWS, dan alur pelayaran dua arah&nbsp;selebar hampir 300 meter untuk mempercepat arus kedatangan dan keberangkatan kapal. Pada tahap1 ini, pelabuhan akan dibangun di atas lahan seluas 195 hektar dengan panjang dermaga 4.000 meter&nbsp;dan mampu menampung kontainer hingga 4,5 juta TEUs. &nbsp; Seperti disebutkan sebelumnya, terminal pertama pembangunan tahap 1 ditargetkan mulai beroperasi&nbsp;pada tahun 2014. Keseluruhan pembangunan New Priok Port akan selesai pada tahun 2023 dan&nbsp;memiliki total kapasitas hingga 13 juta TEUs. Dapat dipastikan bahwa keberadaan New Priok Port akan&nbsp;mampu mendorong penguatan dan efisiensi mata rantai logistik nasional sehingga menarik investor&nbsp;untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Dan perlu dicatat, ini adalah pembangunan pelabuhan&nbsp;terbesar di Indonesia. &nbsp; New Priok Port akan memfasilitasi kapal-kapal besar seukuran EEE Class untuk bisa masuk langsung ke Indonesia tanpa perlu transshipment (Memindahkan muatan ke kapal lain, yang lebih besar/kecil) di negara&nbsp;lain. Dengan demikian, IPC dapat membantu para pelaku usaha dalam menekan biaya transportasi dan&nbsp;logistik, yang pada akhirnya akan menggerakkan perdagangan serta perekonomian di Indonesia.' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/newpriok-telah-mendapatkan-izin-amdal-dari-kementrian-lingkungan-hidup-30.html'>Read More</a> </p> <br clear='all'/> http://103.19.80.229/newpriok/news/newpriok-telah-mendapatkan-izin-amdal-dari-kementrian-lingkungan-hidup-30.html --04TJanuary::00+07:00 AP http://103.19.80.229/newpriok/news/newpriok-telah-mendapatkan-izin-amdal-dari-kementrian-lingkungan-hidup-30.html PT. Pelabuhan Indonesia II | Indonesia Port Corporation HTML Shipping News Asia : IPO Multi Terminal Indonesia <p><a title='Multi Terminal Indonesia (MTI) merupakan anak perusahaan dari &nbsp;Pelindo II. Perusahaan Ini menangani logistik, terminal kontainer dan terminal multiguna bagi pelanggan yang menggunakan pelabuhan di Tanjung Priok.Pelindo II menguasai saham 99 persen di MTI, dengan sisanya dimiliki oleh koperasi karyawan pelabuhan Tanjung Priok."MTI membutuhkan Rp 300 miliar dana untuk ekspansi tahun depan. Dana tersebut diharapkan akan diamankan dari IPO, "kata Mulyono, direktur keuangan Pelindo II, Investor Daily, Selasa.Dia menambahkan bahwa IPO tersebut dijadwalkan untuk paruh kedua tahun 2013. Namun, jika IPO melalui Pelindo II akan memungkinkan MTI secara terpisah menjual obligasi.Adapun Pelindo II sendiri, telah mengumumkan rencana untuk menjual sampai dengan Rp 3,5 triliun obligasi untuk membantu membiayai ekspansi."Hasil dari penjualan obligasi akan digunakan untuk membantu membiayai fase pertama dari pembangunan terminal Kalibaru, serta meningkatkan modal kerja bagi perusahaan secara umum.Mulyono mengatakan pada 20 September bahwa operator pelabuhan membutuhkan $ 4 miliar untuk membangun Pelabuhan Kalibaru, juga dikenal sebagai "Pelabuhan NewPriok," yang terletak tujuh kilometer barat Tanjung Priok di Jakarta Utara.Perusahaan akan membagi pengeluaran investasi menjadi dua tahap: $ 2.5 miliar untuk tahap pertama dan $ 1,5 milyar untuk yang kedua.Pembangunan bagian pertama ini diharapkan akan selesai pada tahun 2014, sedangkan tahap kedua akan dimulai pada 2018 dan diharapkan akan selesai pada tahun 2022.Investasi untuk tahap pertama akan mencakup rencana untuk membangun engkau terminal kontainer dengan kapasitas gabungan sebesar 4,5 juta unit setara dua puluh kaki (TEU), terminal bahan bakar minyak dan dua terminal gas dengan kapasitas gabungan sebesar sembilan juta ton per tahun.Setelah tahap kedua selesai, empat terminal lainnya akan ditambahkan, sehingga penanganan kontainer kapasitas total Pelabuhan Priok Baru menjadi 12,5 juta TEUs.Pelindo II ingin meningkatkan penanganan kapasitas pelabuhan di Pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan tersibuk di Indonesia yang sudah beroperasi, karena pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam negeri telah memicu ledakan yang cepat dalam bisnis penanganan kontainer, dengan lebih banyak barang mengalir melalui pelabuhan.Dengan proses lebih cepat dan kapasitas yang lebih besar, bisnis mengharapkan untuk memotong biaya logistik sementara operator juga dapat meningkatkan pendapatan dan memberikan kontribusi kepada negara melalui pajak.Sumber :&nbsp;Livetradingnews.com' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/shipping-news-asia-;-ipo-multi-terminal-indonesia-29.html'> <img src='../content_images/mt_20pelepas.jpg' width='100' align='left' title='Shipping News Asia : IPO Multi Terminal Indonesia - Multi Terminal Indonesia (MTI) merupakan anak perusahaan dari &nbsp;Pelindo II. Perusahaan Ini menangani logistik, terminal kontainer dan terminal multiguna bagi pelanggan yang menggunakan pelabuhan di Tanjung Priok.Pelindo II menguasai saham 99 persen di MTI, dengan sisanya dimiliki oleh koperasi karyawan pelabuhan Tanjung Priok."MTI membutuhkan Rp 300 miliar dana untuk ekspansi tahun depan. Dana tersebut diharapkan akan diamankan dari IPO, "kata Mulyono, direktur keuangan Pelindo II, Investor Daily, Selasa.Dia menambahkan bahwa IPO tersebut dijadwalkan untuk paruh kedua tahun 2013. Namun, jika IPO melalui Pelindo II akan memungkinkan MTI secara terpisah menjual obligasi.Adapun Pelindo II sendiri, telah mengumumkan rencana untuk menjual sampai dengan Rp 3,5 triliun obligasi untuk membantu membiayai ekspansi."Hasil dari penjualan obligasi akan digunakan untuk membantu membiayai fase pertama dari pembangunan terminal Kalibaru, serta meningkatkan modal kerja bagi perusahaan secara umum.Mulyono mengatakan pada 20 September bahwa operator pelabuhan membutuhkan $ 4 miliar untuk membangun Pelabuhan Kalibaru, juga dikenal sebagai "Pelabuhan NewPriok," yang terletak tujuh kilometer barat Tanjung Priok di Jakarta Utara.Perusahaan akan membagi pengeluaran investasi menjadi dua tahap: $ 2.5 miliar untuk tahap pertama dan $ 1,5 milyar untuk yang kedua.Pembangunan bagian pertama ini diharapkan akan selesai pada tahun 2014, sedangkan tahap kedua akan dimulai pada 2018 dan diharapkan akan selesai pada tahun 2022.Investasi untuk tahap pertama akan mencakup rencana untuk membangun engkau terminal kontainer dengan kapasitas gabungan sebesar 4,5 juta unit setara dua puluh kaki (TEU), terminal bahan bakar minyak dan dua terminal gas dengan kapasitas gabungan sebesar sembilan juta ton per tahun.Setelah tahap kedua selesai, empat terminal lainnya akan ditambahkan, sehingga penanganan kontainer kapasitas total Pelabuhan Priok Baru menjadi 12,5 juta TEUs.Pelindo II ingin meningkatkan penanganan kapasitas pelabuhan di Pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan tersibuk di Indonesia yang sudah beroperasi, karena pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam negeri telah memicu ledakan yang cepat dalam bisnis penanganan kontainer, dengan lebih banyak barang mengalir melalui pelabuhan.Dengan proses lebih cepat dan kapasitas yang lebih besar, bisnis mengharapkan untuk memotong biaya logistik sementara operator juga dapat meningkatkan pendapatan dan memberikan kontribusi kepada negara melalui pajak.Sumber :&nbsp;Livetradingnews.com' border='0' /></a> <p>Multi Terminal Indonesia (MTI) merupakan anak perusahaan dari &nbsp;Pelindo II. Perusahaan Ini menangani logistik, terminal kontainer dan terminal multiguna bagi pelanggan yang menggunakan pelabuhan di Tanjung Priok.<br /><br />Pelindo II menguasai saham 99 persen di MTI, dengan sisanya dimiliki oleh koperasi karyawan pelabuhan Tanjung Priok.<br /><br />"MTI membutuhkan Rp 300 miliar dana untuk ekspansi tahun depan. Dana tersebut diharapkan akan diamankan dari IPO, "kata Mulyono, direktur keuangan Pelindo II, Investor Daily, Selasa.<br /><br />Dia menambahkan bahwa IPO tersebut dijadwalkan untuk paruh kedua tahun 2013. Namun, jika IPO melalui Pelindo II akan memungkinkan MTI secara terpisah menjual obligasi.<br /><br />Adapun Pelindo II sendiri, telah mengumumkan rencana untuk menjual sampai dengan Rp 3,5 triliun obligasi untuk membantu membiayai ekspansi.<br /><br />"Hasil dari penjualan obligasi akan digunakan untuk membantu membiayai fase pertama dari pembangunan terminal Kalibaru, serta meningkatkan modal kerja bagi perusahaan secara umum.<br /><br />Mulyono mengatakan pada 20 September bahwa operator pelabuhan membutuhkan $ 4 miliar untuk membangun Pelabuhan Kalibaru, juga dikenal sebagai "Pelabuhan NewPriok," yang terletak tujuh kilometer barat Tanjung Priok di Jakarta Utara.<br /><br />Perusahaan akan membagi pengeluaran investasi menjadi dua tahap: $ 2.5 miliar untuk tahap pertama dan $ 1,5 milyar untuk yang kedua.<br /><br />Pembangunan bagian pertama ini diharapkan akan selesai pada tahun 2014, sedangkan tahap kedua akan dimulai pada 2018 dan diharapkan akan selesai pada tahun 2022.<br /><br />Investasi untuk tahap pertama akan mencakup rencana untuk membangun engkau terminal kontainer dengan kapasitas gabungan sebesar 4,5 juta unit setara dua puluh kaki (TEU), terminal bahan bakar minyak dan dua terminal gas dengan kapasitas gabungan sebesar sembilan juta ton per tahun.<br /><br />Setelah tahap kedua selesai, empat terminal lainnya akan ditambahkan, sehingga penanganan kontainer kapasitas total Pelabuhan Priok Baru menjadi 12,5 juta TEUs.<br /><br />Pelindo II ingin meningkatkan penanganan kapasitas pelabuhan di Pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan tersibuk di Indonesia yang sudah beroperasi, karena pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam negeri telah memicu ledakan yang cepat dalam bisnis penanganan kontainer, dengan lebih banyak barang mengalir melalui pelabuhan.<br /><br />Dengan proses lebih cepat dan kapasitas yang lebih besar, bisnis mengharapkan untuk memotong biaya logistik sementara operator juga dapat meningkatkan pendapatan dan memberikan kontribusi kepada negara melalui pajak.<br /><br />Sumber :&nbsp;<a href="http://www.livetradingnews.com/shipping-news-asia-multi-terminal-indonesia-ipo-trai-thien-usa-inc-otc-marketstrth-89416.htm#.UJM2Om_qmSo" target="_blank">Livetradingnews.com</a></p> <p><a title='Multi Terminal Indonesia (MTI) merupakan anak perusahaan dari &nbsp;Pelindo II. Perusahaan Ini menangani logistik, terminal kontainer dan terminal multiguna bagi pelanggan yang menggunakan pelabuhan di Tanjung Priok.Pelindo II menguasai saham 99 persen di MTI, dengan sisanya dimiliki oleh koperasi karyawan pelabuhan Tanjung Priok."MTI membutuhkan Rp 300 miliar dana untuk ekspansi tahun depan. Dana tersebut diharapkan akan diamankan dari IPO, "kata Mulyono, direktur keuangan Pelindo II, Investor Daily, Selasa.Dia menambahkan bahwa IPO tersebut dijadwalkan untuk paruh kedua tahun 2013. Namun, jika IPO melalui Pelindo II akan memungkinkan MTI secara terpisah menjual obligasi.Adapun Pelindo II sendiri, telah mengumumkan rencana untuk menjual sampai dengan Rp 3,5 triliun obligasi untuk membantu membiayai ekspansi."Hasil dari penjualan obligasi akan digunakan untuk membantu membiayai fase pertama dari pembangunan terminal Kalibaru, serta meningkatkan modal kerja bagi perusahaan secara umum.Mulyono mengatakan pada 20 September bahwa operator pelabuhan membutuhkan $ 4 miliar untuk membangun Pelabuhan Kalibaru, juga dikenal sebagai "Pelabuhan NewPriok," yang terletak tujuh kilometer barat Tanjung Priok di Jakarta Utara.Perusahaan akan membagi pengeluaran investasi menjadi dua tahap: $ 2.5 miliar untuk tahap pertama dan $ 1,5 milyar untuk yang kedua.Pembangunan bagian pertama ini diharapkan akan selesai pada tahun 2014, sedangkan tahap kedua akan dimulai pada 2018 dan diharapkan akan selesai pada tahun 2022.Investasi untuk tahap pertama akan mencakup rencana untuk membangun engkau terminal kontainer dengan kapasitas gabungan sebesar 4,5 juta unit setara dua puluh kaki (TEU), terminal bahan bakar minyak dan dua terminal gas dengan kapasitas gabungan sebesar sembilan juta ton per tahun.Setelah tahap kedua selesai, empat terminal lainnya akan ditambahkan, sehingga penanganan kontainer kapasitas total Pelabuhan Priok Baru menjadi 12,5 juta TEUs.Pelindo II ingin meningkatkan penanganan kapasitas pelabuhan di Pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan tersibuk di Indonesia yang sudah beroperasi, karena pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam negeri telah memicu ledakan yang cepat dalam bisnis penanganan kontainer, dengan lebih banyak barang mengalir melalui pelabuhan.Dengan proses lebih cepat dan kapasitas yang lebih besar, bisnis mengharapkan untuk memotong biaya logistik sementara operator juga dapat meningkatkan pendapatan dan memberikan kontribusi kepada negara melalui pajak.Sumber :&nbsp;Livetradingnews.com' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/shipping-news-asia-;-ipo-multi-terminal-indonesia-29.html'>Read More</a> </p> <br clear='all'/> http://103.19.80.229/newpriok/news/shipping-news-asia-;-ipo-multi-terminal-indonesia-29.html --02TNovember::00+07:00 AP http://103.19.80.229/newpriok/news/shipping-news-asia-;-ipo-multi-terminal-indonesia-29.html PT. Pelabuhan Indonesia II | Indonesia Port Corporation HTML Jasa Marga bikin jalan tol di atas lautan Jakarta <p><a title='JAKARTA. PT Jasa Marga Tbk berencana membangun tol akses new priok menuju ke pelabuhan Tanjung Priok. Emiten berkode JSMR ini mengungkapkan, pembangunan jalan tol sepanjang 7 kilometer itu akan menelan investasi Rp 4 triliun. Direktur Utama Jasa Marga, Adityawarman mengungkapkan, dana sebesar itu akan diperoleh dari pinjaman bank dan dana internal. "Rinciannya 25% dana internal dan 75% dana dari bank. Bank nya pun tentunya bank BUMN," katanya di Kementerian BUMN, Jumat (7/9). Dari sisi bisnis, Adit meramalkan, jika tol selesai maka akan mendapatkan keuntungan sebesar 6 hingga 7 kali lipat dari nilai investasinya. "Sebab nantinya semua mobil proyek terutama truk-truk besar akan lewat sana," katanya. Disamping itu, kata dia, tol itu memiliki daya tarik tersendiri yakni akan memecah lautan sepanjang 4 kilometer. "Jadi nanti tol itu bisa juga dibuat sebagai sarana melihat-lihat pemandangan seperti jembatan Suramadu yang juga berdiri di atas lautan," ujarnya. Sementara itu, Menteri BUMN, Dahlan Iskan setuju dengan rencana pembangunan itu. Menurutnya, pembangunan jalan tol itu bisa menambah pemasukan negara."Sekali membangun tol ini akan sama dengan prestasi pelabuhan Tanjung Priok selama 130 tahun," katanya. Dahlan meminta, pembangunan tol itu bisa beroperasi pada tahun 2014 bersamaan dengan dioperasikannya pelabuhan Kalibaru. Seperti diketahui, PT Pelindo II dan Jasa Marga sudah menandatangani MoU soal pembangunan jalan tol akses new priok tersebut. Jalan tol itu dibangun untuk mempermudah akses menuju pelabuhan Tanjung Priok dan mengurangi kemacetan yang terjadi di Jakarta Utara.sumber : kontan.co.id&nbsp;' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/jasa-marga-bikin-jalan-tol-di-atas-lautan-jakarta-28.html'> <img src='../content_images/850321536p.jpg' width='100' align='left' title='Jasa Marga bikin jalan tol di atas lautan Jakarta - JAKARTA. PT Jasa Marga Tbk berencana membangun tol akses new priok menuju ke pelabuhan Tanjung Priok. Emiten berkode JSMR ini mengungkapkan, pembangunan jalan tol sepanjang 7 kilometer itu akan menelan investasi Rp 4 triliun. Direktur Utama Jasa Marga, Adityawarman mengungkapkan, dana sebesar itu akan diperoleh dari pinjaman bank dan dana internal. "Rinciannya 25% dana internal dan 75% dana dari bank. Bank nya pun tentunya bank BUMN," katanya di Kementerian BUMN, Jumat (7/9). Dari sisi bisnis, Adit meramalkan, jika tol selesai maka akan mendapatkan keuntungan sebesar 6 hingga 7 kali lipat dari nilai investasinya. "Sebab nantinya semua mobil proyek terutama truk-truk besar akan lewat sana," katanya. Disamping itu, kata dia, tol itu memiliki daya tarik tersendiri yakni akan memecah lautan sepanjang 4 kilometer. "Jadi nanti tol itu bisa juga dibuat sebagai sarana melihat-lihat pemandangan seperti jembatan Suramadu yang juga berdiri di atas lautan," ujarnya. Sementara itu, Menteri BUMN, Dahlan Iskan setuju dengan rencana pembangunan itu. Menurutnya, pembangunan jalan tol itu bisa menambah pemasukan negara."Sekali membangun tol ini akan sama dengan prestasi pelabuhan Tanjung Priok selama 130 tahun," katanya. Dahlan meminta, pembangunan tol itu bisa beroperasi pada tahun 2014 bersamaan dengan dioperasikannya pelabuhan Kalibaru. Seperti diketahui, PT Pelindo II dan Jasa Marga sudah menandatangani MoU soal pembangunan jalan tol akses new priok tersebut. Jalan tol itu dibangun untuk mempermudah akses menuju pelabuhan Tanjung Priok dan mengurangi kemacetan yang terjadi di Jakarta Utara.sumber : kontan.co.id&nbsp;' border='0' /></a> <p><img src="http://photo.kontan.co.id/photo/2012/09/11/850321536p.jpg" alt="" width="674" height="378" /><br /><br />JAKARTA. PT Jasa Marga Tbk berencana membangun tol akses new priok menuju ke pelabuhan Tanjung Priok. Emiten berkode JSMR ini mengungkapkan, pembangunan jalan tol sepanjang 7 kilometer itu akan menelan investasi Rp 4 triliun.</p> <p>Direktur Utama Jasa Marga, Adityawarman mengungkapkan, dana sebesar itu akan diperoleh dari pinjaman bank dan dana internal. "Rinciannya 25% dana internal dan 75% dana dari bank. Bank nya pun tentunya bank BUMN," katanya di Kementerian BUMN, Jumat (7/9).</p> <p>Dari sisi bisnis, Adit meramalkan, jika tol selesai maka akan mendapatkan keuntungan sebesar 6 hingga 7 kali lipat dari nilai investasinya. "Sebab nantinya semua mobil proyek terutama truk-truk besar akan lewat sana," katanya.</p> <p>Disamping itu, kata dia, tol itu memiliki daya tarik tersendiri yakni akan memecah lautan sepanjang 4 kilometer. "Jadi nanti tol itu bisa juga dibuat sebagai sarana melihat-lihat pemandangan seperti jembatan Suramadu yang juga berdiri di atas lautan," ujarnya.</p> <p>Sementara itu, Menteri BUMN, Dahlan Iskan setuju dengan rencana pembangunan itu. Menurutnya, pembangunan jalan tol itu bisa menambah pemasukan negara."Sekali membangun tol ini akan sama dengan prestasi pelabuhan Tanjung Priok selama 130 tahun," katanya.</p> <p>Dahlan meminta, pembangunan tol itu bisa beroperasi pada tahun 2014 bersamaan dengan dioperasikannya pelabuhan Kalibaru.</p> <p>Seperti diketahui, PT Pelindo II dan Jasa Marga sudah menandatangani MoU soal pembangunan jalan tol akses new priok tersebut. Jalan tol itu dibangun untuk mempermudah akses menuju pelabuhan Tanjung Priok dan mengurangi kemacetan yang terjadi di Jakarta Utara.<br /><br />sumber : <a href="http://industri.kontan.co.id/news/jasa-marga-bikin-jalan-tol-di-atas-lautan-jakarta" target="_blank">kontan.co.id&nbsp;</a></p> <p><a title='JAKARTA. PT Jasa Marga Tbk berencana membangun tol akses new priok menuju ke pelabuhan Tanjung Priok. Emiten berkode JSMR ini mengungkapkan, pembangunan jalan tol sepanjang 7 kilometer itu akan menelan investasi Rp 4 triliun. Direktur Utama Jasa Marga, Adityawarman mengungkapkan, dana sebesar itu akan diperoleh dari pinjaman bank dan dana internal. "Rinciannya 25% dana internal dan 75% dana dari bank. Bank nya pun tentunya bank BUMN," katanya di Kementerian BUMN, Jumat (7/9). Dari sisi bisnis, Adit meramalkan, jika tol selesai maka akan mendapatkan keuntungan sebesar 6 hingga 7 kali lipat dari nilai investasinya. "Sebab nantinya semua mobil proyek terutama truk-truk besar akan lewat sana," katanya. Disamping itu, kata dia, tol itu memiliki daya tarik tersendiri yakni akan memecah lautan sepanjang 4 kilometer. "Jadi nanti tol itu bisa juga dibuat sebagai sarana melihat-lihat pemandangan seperti jembatan Suramadu yang juga berdiri di atas lautan," ujarnya. Sementara itu, Menteri BUMN, Dahlan Iskan setuju dengan rencana pembangunan itu. Menurutnya, pembangunan jalan tol itu bisa menambah pemasukan negara."Sekali membangun tol ini akan sama dengan prestasi pelabuhan Tanjung Priok selama 130 tahun," katanya. Dahlan meminta, pembangunan tol itu bisa beroperasi pada tahun 2014 bersamaan dengan dioperasikannya pelabuhan Kalibaru. Seperti diketahui, PT Pelindo II dan Jasa Marga sudah menandatangani MoU soal pembangunan jalan tol akses new priok tersebut. Jalan tol itu dibangun untuk mempermudah akses menuju pelabuhan Tanjung Priok dan mengurangi kemacetan yang terjadi di Jakarta Utara.sumber : kontan.co.id&nbsp;' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/jasa-marga-bikin-jalan-tol-di-atas-lautan-jakarta-28.html'>Read More</a> </p> <br clear='all'/> http://103.19.80.229/newpriok/news/jasa-marga-bikin-jalan-tol-di-atas-lautan-jakarta-28.html --17TSeptember::00+07:00 AP http://103.19.80.229/newpriok/news/jasa-marga-bikin-jalan-tol-di-atas-lautan-jakarta-28.html PT. Pelabuhan Indonesia II | Indonesia Port Corporation HTML Pelindo II Punya Hak Kelola Newpriok 70 Tahun <p><a title='JAKARTA &mdash; PT Pelindo II (Persero) resmi menjadi operator Terminal Kalibaru atau The New Tanjung Priok. Pelindo punya hak mengoperasikan pelabuhan selama 70 tahun dan dapat melanjutkan pengoperasian selama 25 tahun. Plt Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Leon Muhammad mengatakan, Pelindo berkewajiban membayar biaya konsesi kepada pemerintah senilai 0,5% setiap tahun dari gross revenue pelabuhan tersebut sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). &ldquo;Konsesi fee Kalibaru 0,5 persen kepada otoritas pelabuhan dari pendapatan kotor sejak pengoperasian,&rdquo; kata Leon disela MoU Konsesi Terminal Kalibaru Pelabuhan Tanjung Priok Antara Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok dengan PT Pelindo II (Persero) di Kementerian Perhubungan, Jumat (31/8). Disepakati ruang lingkup pembangunan dan pengoperasian Terminal Kalibaru berada di area reklamasi 272 hektar. &ldquo;Area tersebut rencananya akan dibangun 3 unit container terminal dan 2 unit product terminal dengan kedalam kolam hingga 16 mLWS yang akan menampung kapal berukuran 50.000 DWT ke atas,&rdquo; paparnya. Dengan adanya terminal pelabuhan ini, Leon mengharapkan biaya logistik dapat diturunkan serta dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya industri pelayaran. &nbsp; Sumber&nbsp;:&nbsp;JakartaPost.com' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/pelindo-ii-punya-hak-kelola-newpriok-70-tahun-27.html'> <img src='../content_images/news3.jpg' width='100' align='left' title='Pelindo II Punya Hak Kelola Newpriok 70 Tahun - JAKARTA &mdash; PT Pelindo II (Persero) resmi menjadi operator Terminal Kalibaru atau The New Tanjung Priok. Pelindo punya hak mengoperasikan pelabuhan selama 70 tahun dan dapat melanjutkan pengoperasian selama 25 tahun. Plt Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Leon Muhammad mengatakan, Pelindo berkewajiban membayar biaya konsesi kepada pemerintah senilai 0,5% setiap tahun dari gross revenue pelabuhan tersebut sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). &ldquo;Konsesi fee Kalibaru 0,5 persen kepada otoritas pelabuhan dari pendapatan kotor sejak pengoperasian,&rdquo; kata Leon disela MoU Konsesi Terminal Kalibaru Pelabuhan Tanjung Priok Antara Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok dengan PT Pelindo II (Persero) di Kementerian Perhubungan, Jumat (31/8). Disepakati ruang lingkup pembangunan dan pengoperasian Terminal Kalibaru berada di area reklamasi 272 hektar. &ldquo;Area tersebut rencananya akan dibangun 3 unit container terminal dan 2 unit product terminal dengan kedalam kolam hingga 16 mLWS yang akan menampung kapal berukuran 50.000 DWT ke atas,&rdquo; paparnya. Dengan adanya terminal pelabuhan ini, Leon mengharapkan biaya logistik dapat diturunkan serta dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya industri pelayaran. &nbsp; Sumber&nbsp;:&nbsp;JakartaPost.com' border='0' /></a> <p>JAKARTA &mdash; PT Pelindo II (Persero) resmi menjadi operator Terminal Kalibaru atau The New Tanjung Priok. Pelindo punya hak mengoperasikan pelabuhan selama 70 tahun dan dapat melanjutkan pengoperasian selama 25 tahun.</p> <p>Plt Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Leon Muhammad mengatakan, Pelindo berkewajiban membayar biaya konsesi kepada pemerintah senilai 0,5% setiap tahun dari gross revenue pelabuhan tersebut sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).</p> <p>&ldquo;Konsesi fee Kalibaru 0,5 persen kepada otoritas pelabuhan dari pendapatan kotor sejak pengoperasian,&rdquo; kata Leon disela MoU Konsesi Terminal Kalibaru Pelabuhan Tanjung Priok Antara Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok dengan PT Pelindo II (Persero) di Kementerian Perhubungan, Jumat (31/8).</p> <p>Disepakati ruang lingkup pembangunan dan pengoperasian Terminal Kalibaru berada di area reklamasi 272 hektar. &ldquo;Area tersebut rencananya akan dibangun 3 unit container terminal dan 2 unit product terminal dengan kedalam kolam hingga 16 mLWS yang akan menampung kapal berukuran 50.000 DWT ke atas,&rdquo; paparnya.</p> <p>Dengan adanya terminal pelabuhan ini, Leon mengharapkan biaya logistik dapat diturunkan serta dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya industri pelayaran.</p> <p>&nbsp;</p> <p><em>Sumber</em>&nbsp;:&nbsp;<a href="../main.php" target="_blank">JakartaPost.com</a></p> <p><a title='JAKARTA &mdash; PT Pelindo II (Persero) resmi menjadi operator Terminal Kalibaru atau The New Tanjung Priok. Pelindo punya hak mengoperasikan pelabuhan selama 70 tahun dan dapat melanjutkan pengoperasian selama 25 tahun. Plt Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Leon Muhammad mengatakan, Pelindo berkewajiban membayar biaya konsesi kepada pemerintah senilai 0,5% setiap tahun dari gross revenue pelabuhan tersebut sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). &ldquo;Konsesi fee Kalibaru 0,5 persen kepada otoritas pelabuhan dari pendapatan kotor sejak pengoperasian,&rdquo; kata Leon disela MoU Konsesi Terminal Kalibaru Pelabuhan Tanjung Priok Antara Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok dengan PT Pelindo II (Persero) di Kementerian Perhubungan, Jumat (31/8). Disepakati ruang lingkup pembangunan dan pengoperasian Terminal Kalibaru berada di area reklamasi 272 hektar. &ldquo;Area tersebut rencananya akan dibangun 3 unit container terminal dan 2 unit product terminal dengan kedalam kolam hingga 16 mLWS yang akan menampung kapal berukuran 50.000 DWT ke atas,&rdquo; paparnya. Dengan adanya terminal pelabuhan ini, Leon mengharapkan biaya logistik dapat diturunkan serta dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya industri pelayaran. &nbsp; Sumber&nbsp;:&nbsp;JakartaPost.com' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/pelindo-ii-punya-hak-kelola-newpriok-70-tahun-27.html'>Read More</a> </p> <br clear='all'/> http://103.19.80.229/newpriok/news/pelindo-ii-punya-hak-kelola-newpriok-70-tahun-27.html --12TSeptember::00+07:00 AP http://103.19.80.229/newpriok/news/pelindo-ii-punya-hak-kelola-newpriok-70-tahun-27.html PT. Pelabuhan Indonesia II | Indonesia Port Corporation HTML Tiga BUMN Kerjasama Kembangkan The New Tanjung Priok <p><a title='Jakarta&nbsp;- Hari ini 3 BUMN melakukan penatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang bersejarah. Terdapat 2 jenis perjanjian yang dilakuan 3 perusahaan plat merah kali ini.&nbsp; MoU pertama antara PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II/IPC) dan PT Jasa Marga Tbk melakukan kerjasama pembangunan dan pengoperasian tol akses ke Pelabuhan The New Tanjung Priok atau Kalibaru serta pemanfaatan areal jalan tol Jakarta-Tangerang, Jakarta-Bogor dan Jakarta-Cikampek. Pada MoU kedua antara PT Pelindo II, PT Jasa Marga Tbk, dan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) melakukan kerjasama pengintegrasian pelabuhan The New Tanjung Priok dengan KBN Marunda serta pembangunan dan pengoperasian jalan tol The New Tanjung Priok-KBN Marunda. Dirut Pelindo II RJ Lino mengaku kerjasama dengan Jasa Marga dalam membangun akses tol diperuntukan untuk mengurai kemacetan dan memperlancar akses menuju dan keluar The Tanjung Priok. "The New Tanjung Priok harus mulai beroperasi di tahun 2014 tentu diperlukan bantuan dari pesusahaan yang telah bepengalaman menangani pembangunan dan pengoperasian jalan tol seperi Jasa Marga," kata Lino di Kementrian BUMN Jakarta, Jumat (7/9/2012). Selain itu, sinergi dilakukan dengan KBN dalam bentuk pengembangan KBN Marunda. Direktur Utama KBN Raharjo Arjosiswoyo, menjelaskan kerjasama Pelindo II dengan KBN Marunda akan bermanfaat mendukung penguatan The New Tanjung Priok sebagai basis ekspor dari non migas. "Pada prinsipnya kami gembira KBN akan ada pengembangan. Bisnis di kswasan kami ada 90 hektar, akan menjadi bagian dari Pelindo 2 dan menjadi kawasan bertaraf internasional," tutupnya. (feb/dru)&nbsp; Sumber : http://finance.detik.com/read/2012/09/07/180429/2011635/4/tiga-bumn-kerjasama-kembangkan-the-new-tanjung-priok &nbsp;' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/tiga-bumn-kerjasama-kembangkan-the-new-tanjung-priok-26.html'> <img src='../content_images/news2.jpg' width='100' align='left' title='Tiga BUMN Kerjasama Kembangkan The New Tanjung Priok - Jakarta&nbsp;- Hari ini 3 BUMN melakukan penatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang bersejarah. Terdapat 2 jenis perjanjian yang dilakuan 3 perusahaan plat merah kali ini.&nbsp; MoU pertama antara PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II/IPC) dan PT Jasa Marga Tbk melakukan kerjasama pembangunan dan pengoperasian tol akses ke Pelabuhan The New Tanjung Priok atau Kalibaru serta pemanfaatan areal jalan tol Jakarta-Tangerang, Jakarta-Bogor dan Jakarta-Cikampek. Pada MoU kedua antara PT Pelindo II, PT Jasa Marga Tbk, dan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) melakukan kerjasama pengintegrasian pelabuhan The New Tanjung Priok dengan KBN Marunda serta pembangunan dan pengoperasian jalan tol The New Tanjung Priok-KBN Marunda. Dirut Pelindo II RJ Lino mengaku kerjasama dengan Jasa Marga dalam membangun akses tol diperuntukan untuk mengurai kemacetan dan memperlancar akses menuju dan keluar The Tanjung Priok. "The New Tanjung Priok harus mulai beroperasi di tahun 2014 tentu diperlukan bantuan dari pesusahaan yang telah bepengalaman menangani pembangunan dan pengoperasian jalan tol seperi Jasa Marga," kata Lino di Kementrian BUMN Jakarta, Jumat (7/9/2012). Selain itu, sinergi dilakukan dengan KBN dalam bentuk pengembangan KBN Marunda. Direktur Utama KBN Raharjo Arjosiswoyo, menjelaskan kerjasama Pelindo II dengan KBN Marunda akan bermanfaat mendukung penguatan The New Tanjung Priok sebagai basis ekspor dari non migas. "Pada prinsipnya kami gembira KBN akan ada pengembangan. Bisnis di kswasan kami ada 90 hektar, akan menjadi bagian dari Pelindo 2 dan menjadi kawasan bertaraf internasional," tutupnya. (feb/dru)&nbsp; Sumber : http://finance.detik.com/read/2012/09/07/180429/2011635/4/tiga-bumn-kerjasama-kembangkan-the-new-tanjung-priok &nbsp;' border='0' /></a> <p><strong>Jakarta</strong><strong>&nbsp;</strong>- Hari ini 3 BUMN melakukan penatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang bersejarah. Terdapat 2 jenis perjanjian yang dilakuan 3 perusahaan plat merah kali ini.&nbsp;<br /> <br /> MoU pertama antara PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II/IPC) dan PT Jasa Marga Tbk melakukan kerjasama pembangunan dan pengoperasian tol akses ke Pelabuhan The New Tanjung Priok atau Kalibaru serta pemanfaatan areal jalan tol Jakarta-Tangerang, Jakarta-Bogor dan Jakarta-Cikampek.<br /> <br /> Pada MoU kedua antara PT Pelindo II, PT Jasa Marga Tbk, dan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) melakukan kerjasama pengintegrasian pelabuhan The New Tanjung Priok dengan KBN Marunda serta pembangunan dan pengoperasian jalan tol The New Tanjung Priok-KBN Marunda.<br /> <br /> Dirut Pelindo II RJ Lino mengaku kerjasama dengan Jasa Marga dalam membangun akses tol diperuntukan untuk mengurai kemacetan dan memperlancar akses menuju dan keluar The Tanjung Priok.<br /> <br /> "The New Tanjung Priok harus mulai beroperasi di tahun 2014 tentu diperlukan bantuan dari pesusahaan yang telah bepengalaman menangani pembangunan dan pengoperasian jalan tol seperi Jasa Marga," kata Lino di Kementrian BUMN Jakarta, Jumat (7/9/2012).<br /> <br /> Selain itu, sinergi dilakukan dengan KBN dalam bentuk pengembangan KBN Marunda. Direktur Utama KBN Raharjo Arjosiswoyo, menjelaskan kerjasama Pelindo II dengan KBN Marunda akan bermanfaat mendukung penguatan The New Tanjung Priok sebagai basis ekspor dari non migas.<br /> <br /> "Pada prinsipnya kami gembira KBN akan ada pengembangan. Bisnis di kswasan kami ada 90 hektar, akan menjadi bagian dari Pelindo 2 dan menjadi kawasan bertaraf internasional," tutupnya.<br /> <br /> <br /> <br /> <strong>(feb/dru)</strong>&nbsp;</p> <p><em>Sumber</em> : <a href="http://finance.detik.com/read/2012/09/07/180429/2011635/4/tiga-bumn-kerjasama-kembangkan-the-new-tanjung-priok">http://finance.detik.com/read/2012/09/07/180429/2011635/4/tiga-bumn-kerjasama-kembangkan-the-new-tanjung-priok</a></p> <p>&nbsp;</p> <p><a title='Jakarta&nbsp;- Hari ini 3 BUMN melakukan penatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang bersejarah. Terdapat 2 jenis perjanjian yang dilakuan 3 perusahaan plat merah kali ini.&nbsp; MoU pertama antara PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II/IPC) dan PT Jasa Marga Tbk melakukan kerjasama pembangunan dan pengoperasian tol akses ke Pelabuhan The New Tanjung Priok atau Kalibaru serta pemanfaatan areal jalan tol Jakarta-Tangerang, Jakarta-Bogor dan Jakarta-Cikampek. Pada MoU kedua antara PT Pelindo II, PT Jasa Marga Tbk, dan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) melakukan kerjasama pengintegrasian pelabuhan The New Tanjung Priok dengan KBN Marunda serta pembangunan dan pengoperasian jalan tol The New Tanjung Priok-KBN Marunda. Dirut Pelindo II RJ Lino mengaku kerjasama dengan Jasa Marga dalam membangun akses tol diperuntukan untuk mengurai kemacetan dan memperlancar akses menuju dan keluar The Tanjung Priok. "The New Tanjung Priok harus mulai beroperasi di tahun 2014 tentu diperlukan bantuan dari pesusahaan yang telah bepengalaman menangani pembangunan dan pengoperasian jalan tol seperi Jasa Marga," kata Lino di Kementrian BUMN Jakarta, Jumat (7/9/2012). Selain itu, sinergi dilakukan dengan KBN dalam bentuk pengembangan KBN Marunda. Direktur Utama KBN Raharjo Arjosiswoyo, menjelaskan kerjasama Pelindo II dengan KBN Marunda akan bermanfaat mendukung penguatan The New Tanjung Priok sebagai basis ekspor dari non migas. "Pada prinsipnya kami gembira KBN akan ada pengembangan. Bisnis di kswasan kami ada 90 hektar, akan menjadi bagian dari Pelindo 2 dan menjadi kawasan bertaraf internasional," tutupnya. (feb/dru)&nbsp; Sumber : http://finance.detik.com/read/2012/09/07/180429/2011635/4/tiga-bumn-kerjasama-kembangkan-the-new-tanjung-priok &nbsp;' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/tiga-bumn-kerjasama-kembangkan-the-new-tanjung-priok-26.html'>Read More</a> </p> <br clear='all'/> http://103.19.80.229/newpriok/news/tiga-bumn-kerjasama-kembangkan-the-new-tanjung-priok-26.html --12TSeptember::00+07:00 AP http://103.19.80.229/newpriok/news/tiga-bumn-kerjasama-kembangkan-the-new-tanjung-priok-26.html PT. Pelabuhan Indonesia II | Indonesia Port Corporation HTML Satu pukulan Lino untuk 130 tahun <p><a title='Inilah bukti bahwa birokrasi kita tidak jadi faktor penghambat. Kata-kata itu diucapkan dengan semangat oleh RJ Lino, Direktur Utama PT Indonesia Port Corporation, nama baru PT Pelindo II (Persero). Nadanya seperti promosi. Juga seperti melawan arus besar yang hidup di masyarakat. Tapi Lino memberikan bukti. Mungkin Lino sendiri kaget bahwa proyek besar yang dia prakarsai itu akhirnya bisa berjalan. Tidak gagal, misalnya, karena ruwetnya birokrasi. Padahal proyek yang dia gagas dan dia perjuangkan ini bukan proyek sembarangan. Besar skalanya, besar urusannya, dan besar biayanya. Inilah proyek pelabuhan baru Tanjung Priok yang akan menelan biaya Rp 40 triliun. Lino, dengan ucapannya yang agak bombastis itu sebenarnya bukan hanya ingin memuji birokrasi, tapi juga ingin mengkhotbahkan prinsip bahwa seberat apa pun persoalan asal diurus sungguh-sungguh akan berhasil. Jadi, kuncinya di sungguh-sungguh itu. Banyak orang mengatakan sudah bersungguh-sungguh tapi tidak juga berhasil. Untuk orang seperti ini, rasanya perlu diukur kadar kesungguhannya itu. Seperti juga emas, sungguh-sunggu itu ada beberapa macam. Ada sungguh-sungguh yang 24 karat, tapi ada yang 22 karat, 20 karat, dan bahkan ada yang hanya 18 karat. Jangan-jangan ada sungguh-sungguh yang tidak berkarat sama sekali. Lino tentu termasuk yang sungguh-sungguhnya 24 karat. Kalau hanya 20 karat tidak mungkin dia berhasil. Untuk menggambarkan beratnya merintis proyek ini, saya bisa mengatakannya dengan satu kalimat: mungkin hanya proyek Jembatan Selat Sunda yang lebih sulit dari ini. Inilah proyek yang kalau jadi nanti bisa mengubah peta logistik nasional. Inilah SATU proyek yang kalau jadi nanti nilainya lebih besar dari apa yang sudah dibangun di Tanjung Priok selama 130 tahun. Inilah proyek yang akan membuat pelabuhan di Indonesia sejajar dengan pelabuhan-pelabuhan besar di dunia. Kalau pun tidak menang, kita tidak akan kalah lagi dari Malaysia atau Singapura. Inilah pelabuhan yang dalamnya sampai 16 meter sehingga kapal terbesar di dunia pun bisa bersandar di Jakarta. Inilah The New Tanjung Priok. Dunia perkapalan memang punya kecenderungan baru; kian tahun kian besar saja ukuran kapal yang dibuat. Ini untuk mengejar efisiensi angkutan barang. Kian besar kapalnya kian banyak yang bisa diangkut. Dan kian murah biaya angkutannya. Akibatnya kian banyak saja kapal yang tidak bisa mampir ke Indonesia. Indonesia pun kian terkucil. Pelabuhan-pelabuhan Indonesia hanya bisa jadi feeder untuk pelabuhan-pelanbuhan besar di negara lain. Sekarang ini misalnya sudah ada kapal yang begitu besarnya sehingga bisa mengangkut 18.000 kontainer. Pelabuhan kita kian jauh dari itu. Pelabuhan sebesar Tanjung Perak Surabaya pun hanya mampu menerima kapal 3.000 kontainer. Medan, Makassar, dan Batam hanya bisa menerima kapal 1.000 kontainer. Betapa jauhnya kapasitas yang harus kita loncati. Lino tergolong CEO BUMN yang pantang menyerah. Dia tembus semua kesulitan. Dia gedor semua pintu. Dia hadapi semua persoalan. Wajar jika di ajang Anugerah BUMN tahun lalu di mendapat gelar CEO BUMN Paling Inovatif. Tapi Lino juga beruntung. Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof Armida Alisyahbana, dan terutama Menteri Perhubungan EE Mangindaan, berada dalam satu barisan. Bahkan Presiden dan Wakil Presiden memonitor terus proyek ini. Masalah terakhir yang sangat melegakan adalah ketika Menhub EE Mangindaan memberikan hak konsesi selama 70 tahun. Dengan keluarnya keputusan itu tidak ada lagi masalah birokrasi yang dinanti. Kini semuanya tinggal menjadi tanggung jawab Lino. Mulai dari bagaimana membangun fisiknya hingga bagaimana mencari uangnya yang sebesar gajah bengkak itu. Proyek ini memang tidak menggunakan dana dari negara sama sekali. Tidak ada dana dari APBN. Begitu kuatnya keinginan agar proyek ini segera terealisasikan (tahap satua harus sudah bisa diresmikan tahun 2014), sebelum hak konsesi didapat pun semua persiapan sudah diselesaikan. Dengan demikian begitu semua perizinan beres proyek langsung bisa dimulai. Minggu ini kontrak pekerjaan sudah bisa ditandatangani antara Lino dan Bambang Triwibowo Dirut PT PP (Persero) Tbk. PP adalah BUMN yang sudah sangat berpengalaman membangunm pelabuhan. Saya akan minta begitu hari itu tanda tangan kontrak dilakukan, besoknya PT PP sudah harus mulai bekerja. Lantaran letak pelabuhan baru ini di tengah laut (untuk mendapatkan kedalaman yang cukup), maka Lino juga menggagas perlunya jalan tol baru yang langsung menuju pelabuhan ini. Sekaligus ikut mengatasi padatnya lalu lintas truk di kawasan Priok. Proyek jalan tol sepanjang 7 km inilah yang Jumat lalu juga disepakati untuk langsung saja dibangun oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Proyek ini juga melibatkan PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) karena harus menggunakan tanah miliknya. Begitu pelabuhan baru dan jalan tol baru mulai dikerjakan, empat perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pelabuhan mulai menjalankan program peningkatan kapasitas di beberapa pelabuhan utama. Dengan demikian pelabuhan seperti Medan, Batam, Surabaya, dan Makassar akan berubah menjadi pelabuhan yang bisa dimasuki kapal 3.000 kontainer. Mereka juga akan membuat pelabuhan baru yang langsung berukuran besar di Sorong. Semua perubahan tersebut tentu perlu segera diantisipasi oleh kalangan bisnis, terutama bisnis perkapalan. Misalnya saja sampai saat ini belum ada pengusaha kapal kita yang memiliki kapal kelas 3.000 kontainer. Tentu sekarang perlu menyiapkan diri agar kelak bisa benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.(*) Dahlan Iskan, Menteri BUMN Sumber : http://dahlaniskan.wordpress.com/' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/satu-pukulan-lino-untuk-130-tahun-25.html'> <img src='../content_images/news1.png' width='100' align='left' title='Satu pukulan Lino untuk 130 tahun - Inilah bukti bahwa birokrasi kita tidak jadi faktor penghambat. Kata-kata itu diucapkan dengan semangat oleh RJ Lino, Direktur Utama PT Indonesia Port Corporation, nama baru PT Pelindo II (Persero). Nadanya seperti promosi. Juga seperti melawan arus besar yang hidup di masyarakat. Tapi Lino memberikan bukti. Mungkin Lino sendiri kaget bahwa proyek besar yang dia prakarsai itu akhirnya bisa berjalan. Tidak gagal, misalnya, karena ruwetnya birokrasi. Padahal proyek yang dia gagas dan dia perjuangkan ini bukan proyek sembarangan. Besar skalanya, besar urusannya, dan besar biayanya. Inilah proyek pelabuhan baru Tanjung Priok yang akan menelan biaya Rp 40 triliun. Lino, dengan ucapannya yang agak bombastis itu sebenarnya bukan hanya ingin memuji birokrasi, tapi juga ingin mengkhotbahkan prinsip bahwa seberat apa pun persoalan asal diurus sungguh-sungguh akan berhasil. Jadi, kuncinya di sungguh-sungguh itu. Banyak orang mengatakan sudah bersungguh-sungguh tapi tidak juga berhasil. Untuk orang seperti ini, rasanya perlu diukur kadar kesungguhannya itu. Seperti juga emas, sungguh-sunggu itu ada beberapa macam. Ada sungguh-sungguh yang 24 karat, tapi ada yang 22 karat, 20 karat, dan bahkan ada yang hanya 18 karat. Jangan-jangan ada sungguh-sungguh yang tidak berkarat sama sekali. Lino tentu termasuk yang sungguh-sungguhnya 24 karat. Kalau hanya 20 karat tidak mungkin dia berhasil. Untuk menggambarkan beratnya merintis proyek ini, saya bisa mengatakannya dengan satu kalimat: mungkin hanya proyek Jembatan Selat Sunda yang lebih sulit dari ini. Inilah proyek yang kalau jadi nanti bisa mengubah peta logistik nasional. Inilah SATU proyek yang kalau jadi nanti nilainya lebih besar dari apa yang sudah dibangun di Tanjung Priok selama 130 tahun. Inilah proyek yang akan membuat pelabuhan di Indonesia sejajar dengan pelabuhan-pelabuhan besar di dunia. Kalau pun tidak menang, kita tidak akan kalah lagi dari Malaysia atau Singapura. Inilah pelabuhan yang dalamnya sampai 16 meter sehingga kapal terbesar di dunia pun bisa bersandar di Jakarta. Inilah The New Tanjung Priok. Dunia perkapalan memang punya kecenderungan baru; kian tahun kian besar saja ukuran kapal yang dibuat. Ini untuk mengejar efisiensi angkutan barang. Kian besar kapalnya kian banyak yang bisa diangkut. Dan kian murah biaya angkutannya. Akibatnya kian banyak saja kapal yang tidak bisa mampir ke Indonesia. Indonesia pun kian terkucil. Pelabuhan-pelabuhan Indonesia hanya bisa jadi feeder untuk pelabuhan-pelanbuhan besar di negara lain. Sekarang ini misalnya sudah ada kapal yang begitu besarnya sehingga bisa mengangkut 18.000 kontainer. Pelabuhan kita kian jauh dari itu. Pelabuhan sebesar Tanjung Perak Surabaya pun hanya mampu menerima kapal 3.000 kontainer. Medan, Makassar, dan Batam hanya bisa menerima kapal 1.000 kontainer. Betapa jauhnya kapasitas yang harus kita loncati. Lino tergolong CEO BUMN yang pantang menyerah. Dia tembus semua kesulitan. Dia gedor semua pintu. Dia hadapi semua persoalan. Wajar jika di ajang Anugerah BUMN tahun lalu di mendapat gelar CEO BUMN Paling Inovatif. Tapi Lino juga beruntung. Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof Armida Alisyahbana, dan terutama Menteri Perhubungan EE Mangindaan, berada dalam satu barisan. Bahkan Presiden dan Wakil Presiden memonitor terus proyek ini. Masalah terakhir yang sangat melegakan adalah ketika Menhub EE Mangindaan memberikan hak konsesi selama 70 tahun. Dengan keluarnya keputusan itu tidak ada lagi masalah birokrasi yang dinanti. Kini semuanya tinggal menjadi tanggung jawab Lino. Mulai dari bagaimana membangun fisiknya hingga bagaimana mencari uangnya yang sebesar gajah bengkak itu. Proyek ini memang tidak menggunakan dana dari negara sama sekali. Tidak ada dana dari APBN. Begitu kuatnya keinginan agar proyek ini segera terealisasikan (tahap satua harus sudah bisa diresmikan tahun 2014), sebelum hak konsesi didapat pun semua persiapan sudah diselesaikan. Dengan demikian begitu semua perizinan beres proyek langsung bisa dimulai. Minggu ini kontrak pekerjaan sudah bisa ditandatangani antara Lino dan Bambang Triwibowo Dirut PT PP (Persero) Tbk. PP adalah BUMN yang sudah sangat berpengalaman membangunm pelabuhan. Saya akan minta begitu hari itu tanda tangan kontrak dilakukan, besoknya PT PP sudah harus mulai bekerja. Lantaran letak pelabuhan baru ini di tengah laut (untuk mendapatkan kedalaman yang cukup), maka Lino juga menggagas perlunya jalan tol baru yang langsung menuju pelabuhan ini. Sekaligus ikut mengatasi padatnya lalu lintas truk di kawasan Priok. Proyek jalan tol sepanjang 7 km inilah yang Jumat lalu juga disepakati untuk langsung saja dibangun oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Proyek ini juga melibatkan PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) karena harus menggunakan tanah miliknya. Begitu pelabuhan baru dan jalan tol baru mulai dikerjakan, empat perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pelabuhan mulai menjalankan program peningkatan kapasitas di beberapa pelabuhan utama. Dengan demikian pelabuhan seperti Medan, Batam, Surabaya, dan Makassar akan berubah menjadi pelabuhan yang bisa dimasuki kapal 3.000 kontainer. Mereka juga akan membuat pelabuhan baru yang langsung berukuran besar di Sorong. Semua perubahan tersebut tentu perlu segera diantisipasi oleh kalangan bisnis, terutama bisnis perkapalan. Misalnya saja sampai saat ini belum ada pengusaha kapal kita yang memiliki kapal kelas 3.000 kontainer. Tentu sekarang perlu menyiapkan diri agar kelak bisa benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.(*) Dahlan Iskan, Menteri BUMN Sumber : http://dahlaniskan.wordpress.com/' border='0' /></a> <p><img src="http://www.lensaindonesia.com/uploads/1/2012/07/RJ-Lino.jpg" alt="" width="448" height="296" /><br /><br />Inilah bukti bahwa birokrasi kita tidak jadi faktor penghambat. Kata-kata itu diucapkan dengan semangat oleh RJ Lino, Direktur Utama PT Indonesia Port Corporation, nama baru PT Pelindo II (Persero).</p> <p>Nadanya seperti promosi. Juga seperti melawan arus besar yang hidup di masyarakat. Tapi Lino memberikan bukti.</p> <p>Mungkin Lino sendiri kaget bahwa proyek besar yang dia prakarsai itu akhirnya bisa berjalan. Tidak gagal, misalnya, karena ruwetnya birokrasi. Padahal proyek yang dia gagas dan dia perjuangkan ini bukan proyek sembarangan. Besar skalanya, besar urusannya, dan besar biayanya. Inilah proyek pelabuhan baru Tanjung Priok yang akan menelan biaya Rp 40 triliun.</p> <p>Lino, dengan ucapannya yang agak bombastis itu sebenarnya bukan hanya ingin memuji birokrasi, tapi juga ingin mengkhotbahkan prinsip bahwa seberat apa pun persoalan asal diurus sungguh-sungguh akan berhasil.</p> <p>Jadi, kuncinya di sungguh-sungguh itu.</p> <p>Banyak orang mengatakan sudah bersungguh-sungguh tapi tidak juga berhasil. Untuk orang seperti ini, rasanya perlu diukur kadar kesungguhannya itu. Seperti juga emas, sungguh-sunggu itu ada beberapa macam. Ada sungguh-sungguh yang 24 karat, tapi ada yang 22 karat, 20 karat, dan bahkan ada yang hanya 18 karat. Jangan-jangan ada sungguh-sungguh yang tidak berkarat sama sekali.</p> <p>Lino tentu termasuk yang sungguh-sungguhnya 24 karat. Kalau hanya 20 karat tidak mungkin dia berhasil. Untuk menggambarkan beratnya merintis proyek ini, saya bisa mengatakannya dengan satu kalimat: mungkin hanya proyek Jembatan Selat Sunda yang lebih sulit dari ini.</p> <p>Inilah proyek yang kalau jadi nanti bisa mengubah peta logistik nasional. Inilah SATU proyek yang kalau jadi nanti nilainya lebih besar dari apa yang sudah dibangun di Tanjung Priok selama 130 tahun.</p> <p>Inilah proyek yang akan membuat pelabuhan di Indonesia sejajar dengan pelabuhan-pelabuhan besar di dunia. Kalau pun tidak menang, kita tidak akan kalah lagi dari Malaysia atau Singapura. Inilah pelabuhan yang dalamnya sampai 16 meter sehingga kapal terbesar di dunia pun bisa bersandar di Jakarta.</p> <p>Inilah The New Tanjung Priok.</p> <p>Dunia perkapalan memang punya kecenderungan baru; kian tahun kian besar saja ukuran kapal yang dibuat. Ini untuk mengejar efisiensi angkutan barang. Kian besar kapalnya kian banyak yang bisa diangkut. Dan kian murah biaya angkutannya. Akibatnya kian banyak saja kapal yang tidak bisa mampir ke Indonesia.</p> <p>Indonesia pun kian terkucil. Pelabuhan-pelabuhan Indonesia hanya bisa jadi feeder untuk pelabuhan-pelanbuhan besar di negara lain.</p> <p>Sekarang ini misalnya sudah ada kapal yang begitu besarnya sehingga bisa mengangkut 18.000 kontainer. Pelabuhan kita kian jauh dari itu. Pelabuhan sebesar Tanjung Perak Surabaya pun hanya mampu menerima kapal 3.000 kontainer. Medan, Makassar, dan Batam hanya bisa menerima kapal 1.000 kontainer. Betapa jauhnya kapasitas yang harus kita loncati.</p> <p>Lino tergolong CEO BUMN yang pantang menyerah. Dia tembus semua kesulitan. Dia gedor semua pintu. Dia hadapi semua persoalan. Wajar jika di ajang Anugerah BUMN tahun lalu di mendapat gelar CEO BUMN Paling Inovatif.</p> <p>Tapi Lino juga beruntung. Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof Armida Alisyahbana, dan terutama Menteri Perhubungan EE Mangindaan, berada dalam satu barisan. Bahkan Presiden dan Wakil Presiden memonitor terus proyek ini.</p> <p>Masalah terakhir yang sangat melegakan adalah ketika Menhub EE Mangindaan memberikan hak konsesi selama 70 tahun. Dengan keluarnya keputusan itu tidak ada lagi masalah birokrasi yang dinanti. Kini semuanya tinggal menjadi tanggung jawab Lino. Mulai dari bagaimana membangun fisiknya hingga bagaimana mencari uangnya yang sebesar gajah bengkak itu.</p> <p>Proyek ini memang tidak menggunakan dana dari negara sama sekali. Tidak ada dana dari APBN. Begitu kuatnya keinginan agar proyek ini segera terealisasikan (tahap satua harus sudah bisa diresmikan tahun 2014), sebelum hak konsesi didapat pun semua persiapan sudah diselesaikan. Dengan demikian begitu semua perizinan beres proyek langsung bisa dimulai.</p> <p>Minggu ini kontrak pekerjaan sudah bisa ditandatangani antara Lino dan Bambang Triwibowo Dirut PT PP (Persero) Tbk. PP adalah BUMN yang sudah sangat berpengalaman membangunm pelabuhan. Saya akan minta begitu hari itu tanda tangan kontrak dilakukan, besoknya PT PP sudah harus mulai bekerja.</p> <p>Lantaran letak pelabuhan baru ini di tengah laut (untuk mendapatkan kedalaman yang cukup), maka Lino juga menggagas perlunya jalan tol baru yang langsung menuju pelabuhan ini. Sekaligus ikut mengatasi padatnya lalu lintas truk di kawasan Priok. Proyek jalan tol sepanjang 7 km inilah yang Jumat lalu juga disepakati untuk langsung saja dibangun oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Proyek ini juga melibatkan PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) karena harus menggunakan tanah miliknya.</p> <p>Begitu pelabuhan baru dan jalan tol baru mulai dikerjakan, empat perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pelabuhan mulai menjalankan program peningkatan kapasitas di beberapa pelabuhan utama.</p> <p>Dengan demikian pelabuhan seperti Medan, Batam, Surabaya, dan Makassar akan berubah menjadi pelabuhan yang bisa dimasuki kapal 3.000 kontainer. Mereka juga akan membuat pelabuhan baru yang langsung berukuran besar di Sorong.</p> <p>Semua perubahan tersebut tentu perlu segera diantisipasi oleh kalangan bisnis, terutama bisnis perkapalan. Misalnya saja sampai saat ini belum ada pengusaha kapal kita yang memiliki kapal kelas 3.000 kontainer. Tentu sekarang perlu menyiapkan diri agar kelak bisa benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.(*)</p> <p><strong><em><br /></em></strong></p> <p><strong><em>Dahlan Iskan, Menteri BUMN</em></strong></p> <p><strong><em>Sumber</em><em> : </em></strong><a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/">http://dahlaniskan.wordpress.com/</a></p> <p><a title='Inilah bukti bahwa birokrasi kita tidak jadi faktor penghambat. Kata-kata itu diucapkan dengan semangat oleh RJ Lino, Direktur Utama PT Indonesia Port Corporation, nama baru PT Pelindo II (Persero). Nadanya seperti promosi. Juga seperti melawan arus besar yang hidup di masyarakat. Tapi Lino memberikan bukti. Mungkin Lino sendiri kaget bahwa proyek besar yang dia prakarsai itu akhirnya bisa berjalan. Tidak gagal, misalnya, karena ruwetnya birokrasi. Padahal proyek yang dia gagas dan dia perjuangkan ini bukan proyek sembarangan. Besar skalanya, besar urusannya, dan besar biayanya. Inilah proyek pelabuhan baru Tanjung Priok yang akan menelan biaya Rp 40 triliun. Lino, dengan ucapannya yang agak bombastis itu sebenarnya bukan hanya ingin memuji birokrasi, tapi juga ingin mengkhotbahkan prinsip bahwa seberat apa pun persoalan asal diurus sungguh-sungguh akan berhasil. Jadi, kuncinya di sungguh-sungguh itu. Banyak orang mengatakan sudah bersungguh-sungguh tapi tidak juga berhasil. Untuk orang seperti ini, rasanya perlu diukur kadar kesungguhannya itu. Seperti juga emas, sungguh-sunggu itu ada beberapa macam. Ada sungguh-sungguh yang 24 karat, tapi ada yang 22 karat, 20 karat, dan bahkan ada yang hanya 18 karat. Jangan-jangan ada sungguh-sungguh yang tidak berkarat sama sekali. Lino tentu termasuk yang sungguh-sungguhnya 24 karat. Kalau hanya 20 karat tidak mungkin dia berhasil. Untuk menggambarkan beratnya merintis proyek ini, saya bisa mengatakannya dengan satu kalimat: mungkin hanya proyek Jembatan Selat Sunda yang lebih sulit dari ini. Inilah proyek yang kalau jadi nanti bisa mengubah peta logistik nasional. Inilah SATU proyek yang kalau jadi nanti nilainya lebih besar dari apa yang sudah dibangun di Tanjung Priok selama 130 tahun. Inilah proyek yang akan membuat pelabuhan di Indonesia sejajar dengan pelabuhan-pelabuhan besar di dunia. Kalau pun tidak menang, kita tidak akan kalah lagi dari Malaysia atau Singapura. Inilah pelabuhan yang dalamnya sampai 16 meter sehingga kapal terbesar di dunia pun bisa bersandar di Jakarta. Inilah The New Tanjung Priok. Dunia perkapalan memang punya kecenderungan baru; kian tahun kian besar saja ukuran kapal yang dibuat. Ini untuk mengejar efisiensi angkutan barang. Kian besar kapalnya kian banyak yang bisa diangkut. Dan kian murah biaya angkutannya. Akibatnya kian banyak saja kapal yang tidak bisa mampir ke Indonesia. Indonesia pun kian terkucil. Pelabuhan-pelabuhan Indonesia hanya bisa jadi feeder untuk pelabuhan-pelanbuhan besar di negara lain. Sekarang ini misalnya sudah ada kapal yang begitu besarnya sehingga bisa mengangkut 18.000 kontainer. Pelabuhan kita kian jauh dari itu. Pelabuhan sebesar Tanjung Perak Surabaya pun hanya mampu menerima kapal 3.000 kontainer. Medan, Makassar, dan Batam hanya bisa menerima kapal 1.000 kontainer. Betapa jauhnya kapasitas yang harus kita loncati. Lino tergolong CEO BUMN yang pantang menyerah. Dia tembus semua kesulitan. Dia gedor semua pintu. Dia hadapi semua persoalan. Wajar jika di ajang Anugerah BUMN tahun lalu di mendapat gelar CEO BUMN Paling Inovatif. Tapi Lino juga beruntung. Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof Armida Alisyahbana, dan terutama Menteri Perhubungan EE Mangindaan, berada dalam satu barisan. Bahkan Presiden dan Wakil Presiden memonitor terus proyek ini. Masalah terakhir yang sangat melegakan adalah ketika Menhub EE Mangindaan memberikan hak konsesi selama 70 tahun. Dengan keluarnya keputusan itu tidak ada lagi masalah birokrasi yang dinanti. Kini semuanya tinggal menjadi tanggung jawab Lino. Mulai dari bagaimana membangun fisiknya hingga bagaimana mencari uangnya yang sebesar gajah bengkak itu. Proyek ini memang tidak menggunakan dana dari negara sama sekali. Tidak ada dana dari APBN. Begitu kuatnya keinginan agar proyek ini segera terealisasikan (tahap satua harus sudah bisa diresmikan tahun 2014), sebelum hak konsesi didapat pun semua persiapan sudah diselesaikan. Dengan demikian begitu semua perizinan beres proyek langsung bisa dimulai. Minggu ini kontrak pekerjaan sudah bisa ditandatangani antara Lino dan Bambang Triwibowo Dirut PT PP (Persero) Tbk. PP adalah BUMN yang sudah sangat berpengalaman membangunm pelabuhan. Saya akan minta begitu hari itu tanda tangan kontrak dilakukan, besoknya PT PP sudah harus mulai bekerja. Lantaran letak pelabuhan baru ini di tengah laut (untuk mendapatkan kedalaman yang cukup), maka Lino juga menggagas perlunya jalan tol baru yang langsung menuju pelabuhan ini. Sekaligus ikut mengatasi padatnya lalu lintas truk di kawasan Priok. Proyek jalan tol sepanjang 7 km inilah yang Jumat lalu juga disepakati untuk langsung saja dibangun oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Proyek ini juga melibatkan PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) karena harus menggunakan tanah miliknya. Begitu pelabuhan baru dan jalan tol baru mulai dikerjakan, empat perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pelabuhan mulai menjalankan program peningkatan kapasitas di beberapa pelabuhan utama. Dengan demikian pelabuhan seperti Medan, Batam, Surabaya, dan Makassar akan berubah menjadi pelabuhan yang bisa dimasuki kapal 3.000 kontainer. Mereka juga akan membuat pelabuhan baru yang langsung berukuran besar di Sorong. Semua perubahan tersebut tentu perlu segera diantisipasi oleh kalangan bisnis, terutama bisnis perkapalan. Misalnya saja sampai saat ini belum ada pengusaha kapal kita yang memiliki kapal kelas 3.000 kontainer. Tentu sekarang perlu menyiapkan diri agar kelak bisa benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.(*) Dahlan Iskan, Menteri BUMN Sumber : http://dahlaniskan.wordpress.com/' target='_blank' href='http://103.19.80.229/newpriok/news/satu-pukulan-lino-untuk-130-tahun-25.html'>Read More</a> </p> <br clear='all'/> http://103.19.80.229/newpriok/news/satu-pukulan-lino-untuk-130-tahun-25.html --10TSeptember::00+07:00 AP http://103.19.80.229/newpriok/news/satu-pukulan-lino-untuk-130-tahun-25.html PT. Pelabuhan Indonesia II | Indonesia Port Corporation HTML